Penderita Hydrocephalus Pasrah Menunggu Ajal Tiba

|

Ilustrasi (fadedtribune.com)

Penderita Hydrocephalus Pasrah Menunggu Ajal Tiba

PAMEKASAN- Masyarakat beranggapan bahwa hydrocephalus atau pembengkakan di kepala karena cairan di otak, tidak dapat disembuhkan. Sehingga penderita hanya pasrah menunggu ajal.

Selain itu, mahalnya biaya pengobatan menambah keengganan orangtua penderita untuk memeriksakan anaknya. Kondisi ini setidaknya terjadi di Pamekasan, Jawa Timur.

Salah satunya dialami Sakinatul Qalbiyah, putri bungsu pasangan Muhri (55) dan Sumiati (45), warga Desa Kertagennah Laok, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Sejak lahir benjolan sudah ada di kepala Ina, panggilan akrab Sakina. Setelah dibawa ke dokter, Ina dinyatakan menderita hydrocephalus. Sejak itu, Muhri dan Sumiati, hanya merawat bocah yang kini berusia 9 tahun di rumah.

Sumiati mengaku tidak memiliki biaya untuk mengobati anaknya. Ditambah, anggapan masyarakat bahwa penyakit kepala besar tidak akan bisa sembuh.

Jika rasa sakit kambuh, Ina hanya dibawa ke puskesmas terdekat. Tak ada lagi yang bisa dilakukan orangtua yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani.

Muhri dan Sumiati hanya merawat Ina seadanya, sampai ajal menjemput.

(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Belasan Anggota Geng Motor Diamuk Warga