JAKARTA- Perang informasi sebagai bagian dari Perang Generasi IV perlu diwaspadai karena perang ini lebih kompleks dan rumit mengingat aktornya bukan hanya pemerintah dan negara tertentu saja.
Perang informasi melibatkan masyarakat global yang saling terhubungkan satu sama lain dan bergerak secara independen dan bersama-sama dengan tujuan tertentu. Untuk itulah, Indonesia sebagai negara yang juga ikut dalam permainan global harus mewaspadainya dengan segala antisipasinya.
"Kita perlu kritis dan proporsional dalam menghadapi kritik dari luar, karena kadang kritik tersebut bersumber pada fakta yang kurang atau tidak kredibel, data mentah ataupun observasi terbatas yang kemudian digeneralisasi seperti info yang dilansir dari bocoran kawat wikileaks. Itu bagian dari perang informasi yang harus diwaspadai," kata Direktur Ekskutif Indonesia Centre for Democracy, Diplomacy, and Defense Teuku Rezasyah saat diskusi "Indonesia dalam Pusaran Opini Dunia" di Jakarta, Selasa (12/4/2011).
Menurut dia, globalisasi yang mempertautkan cooperation and competition telah menghadirkan sebuah skenario baru dalam hubungan internasional yang dikenal dengan nama "Perang Asimetris". Artinya, informasi negatif yang disebarkan media internasional merupakan bagian dari perang informasi.
"Untuk itu, kami berharap pemerintah secara proaktif merespon kritik-kritik tersebut secara proporsional, kritis, dan terus melakukan perbaikan kebijakan yang tepat dan terukur," ujarnya.
(Stefanus Yugo Hindarto)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.