Dipaksa Kosongkan Rumah, Eks Pegawai PLN ke Polisi

Sabtu, 30 April 2011 01:27 wib | Tri Kurniawan - Okezone

Ilustrasi/ Warga menolak pengosongan rumah dinas di Cililitan Ilustrasi/ Warga menolak pengosongan rumah dinas di Cililitan JAKARTA - Dua mantan pegawai PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Mowilos dan Tahir Harahap melapor ke Polda Metro Jaya. Keduanya mengaku mendapat intimidasi untuk mengosongkan rumah dinas yang ditempati.


Mowilos dan Tahir bekerja di PLN masing-masing 33 dan 35 tahun tinggal di rumah dinas milik PLN hingga saat ini. Dia menceritakan, mendapat intimidasi agar mengosongkan rumah di Jalan Gedung Hijau Raya nomor 46, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pria peneror itu kata Mowilos, bertubuh tegap dan mengaku orang suruhan Kepala Divisi Umum kantor PT PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Peneror, kata dia datang secara bergerombol.

"Mereka masuk kerumah dan kamar kami tanpa izin bahkan mereka juga menteror kami lewat surat dan telepon," katanya kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/4/2011).

Tidak hanya itu, kata dia salah satu pria tegap bernama Bambang juga menyegel rumahnya dengan memasang papan bertuliskan perintah keluar dari rumah sesegera mungkin. Kejadian ini berlangsung selama enam bulan terakhir.

Kejadian serupa juga diamini Tahir yang saat ditemui mendampingi Mawilos. Beruntung Mawilos dan Tahir sekeluarga tidak mengalami kekerasan fisik. "Sebenarnya kami sudah sempat mengajukan surat untuk membeli rumah tersebut sesuai syarat yang sudah ditentukan tapi tidak ada tanggapan," ujarnya.

Keduanya berharap bisa mendapat keadilan. Seperti teman-temanya yang lain bisa membeli rumah tanpa mengalami teror sebelumnya. Usahanya tidak sampai disitu, agar diberi kesempatan untuk tinggal pria berambut putih ini berusaha menemui Kepala Divisi Umum PLN, Edi Sukmoro.

Saat bertemu yang dihasilkan nyatanya juga tidak sesuai harapan. Bukan mendapat tanggapan baik Mawilos malah mendapat umpatan kasar dari Edi.

"Dia mengatakan polisi bisa diatur bahkan bisa menyuruh polisi mengusir kita secara paksa, dia juga mengaku menyuruh orang untuk mengusir kita," terangnya.

Mawilos sempat curiga jika pemaksaan tersebut merupakan rekayasa orang tertentu untuk mengambil keuntungan jika dia sekeluarga minggat dari rumah dinasnya.

Kecurigaan terpikir saat orang suruhan Edi mengirim surat berita acara penyerahan kunci rumah jabatan dan perabot rumah milik PT PLN kantor pusat. Surat tersebut tanpa stempel dan kop surat resmi PT PLN.

Surat tersebut atas nama Kepala Divisi Umum PT PLN Edi Sukmoro dan dikirim pada 22 Desember 2010. Lagi-lagi Mowilos dipaksa menandatangani surat tersebut.
 
Mowilas berniat melaporkan masalah yang dialaminya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya, namun laporannya ditolak dengan alasan tidak membawa saksi yang cukup. Didampingi kuasa hukumnya Pamela Bianca, Mawilos dan Tahir pulang tanpa membawa surat laporan.

"Tadi kita sudah lapor tapi katanya saksinya kurang, mungkin nanti Senin (2/1/2011) akan kami lengkapi lagi termasuk saksi-saksi," ujar Bianca menutup perbincangan. (fer)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »