Marsinah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Rabu, 04 Mei 2011 00:46 wib | Muhammad Saifullah - Okezone

Ilustrasi (foto:Ist) Ilustrasi (foto:Ist) JAKARTA - Komite Pusat  Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP) mengusulkan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Marsinah yang tewas pada tahun 1993 dinilai  telah menjadi inspirasi untuk perjuangan kelas pekerja di Indonesia.

Marsinah bersama kawan-kawan buruh PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) pada tahun 1993 menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 per hari, cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur, dan pembubaran unit kerja SPSI yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh. Marsinah bersama kawan-kawan buruh PT CPS juga menuntut kebebasan hak buruh untuk berserikat.

“Karena kegigihannya juga lah, Marsinah akhirnya dibunuh dan mayatnya baru diketemukan pada tanggal 8 Mei 1993, di pinggir hutan jati Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, dengan kondisi yang mengenaskan,” kata Ketua Nasional PRP Anwar Maruf dalam keterangannya, Rabu (4/5/2011).

Menurut Maruf, saat ini sudah delapan belas tahun peristiwa pembunuhan Marsinah terjadi. Namun persoalan kaum buruh masih sama seperti delapan belas tahun lalu. Upah murah, PHK, pemberangusan serikat buruh (union busting), ditambah dengan sistem kerja kontrak dan outsourcing. “Kondisi perburuhan saat ini jelas tidak lebih baik dari kondisi perburuhan delapan belas tahun lalu. Semua fenomena ini merupakan dampak dari penerapan Labor Market Flexibility (LMF) oleh rezim neoliberal,” katanya.

Penerapan Pasar Tenaga Kerja yang bersifat fleksibel (LMF) oleh rezim neoliberal, melalui pemberlakuan tiga paket kebijakan perburuhan (UU No 21 Tahun 2000, UU No 13 Tahun 2003, dan UU No 2 Tahun 2004), tentunya semakin memperparah kondisi perburuhan di Indonesia saat ini. Harga bahan makanan serta bahan bakar yang semakin menjulang tinggi mengakibatkan tingginya angka pertumbuhan buruh perempuan di Indonesia.

Jumlah angkatan kerja perempuan pada tahun 2006 mencapai 38,6 juta orang dan meningkat hingga 42,8 juga orang pada tahun 2008. Buruh perempuan tersebut banyak terserap di perdagangan, pertanian, dan industri. Masuknya perempuan ke lapangan pekerjaan ini lebih dikarenakan dorongan pemenuhan dan usaha untuk menambah penghasilan keluarga.

Sementara itu, karena keterbatasan lapangan pekerjaan, para perempuan ini pun akhirnya memilih untuk bekerja di sektor informal, termasuk di dalamnya melakukan pekerjaan seks. Sampai dengan Agustus 2008, sektor informal masih mendominasi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dengan kontribusi sekitar 65,92% buruh laki-laki dan 73,54% buruh perempuan.

Yang terkena PHK pun dipaksa mengurangi konsumsi makanan mereka dan anak-anak mereka. Dan ketika mereka melakukan perlawanan untuk memperoleh hak-hak mereka, perlawanan tersebut dihadapi oleh pemilik modal dan rezim neoliberal dengan pemberangusan serikat.


Maka dari itu, PRP menyerukan kepada seluruh rakyat pekerja di Indonesia untuk memperjuangkan Marsinah sebagai Pahlawan Buruh Perempuan di Indonesia. “Jadikan tanggal gugurnya Marsinah, yakni 8 Mei, sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia,” tandasnya. (ugo)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »