Tragedi Tanjung Priuk

|

Ilustrasi: daylife

Tragedi Tanjung Priuk
JAKARTA - Pelanggaran Hak Asasi Manusia berat yang dilakukan aparat keamanan di era orde baru lainnya adalah tragedi Tanjung Priuk tanggal 24 September 1984. Peristiwa ini bermula oleh tindakan oknum ABRI, bernama Sersan Satu Hermanu.

Dia  mendatangi mushala As-Sa'adah untuk menyita pamflet berbau SARA. Dan melakukan tindakan provokatif lainnya. Hal ini membuat jemaah terpancing emosiyang berakibat massa membakar motor Hermanu. Kodim setempat langsung bereaksi dengan  mengambil tindakan tegas berupa menangkap empat orang pengurus mushala.

Puncak tragedi Tanjung Priuk adalah 24 September 1984 di Jalan Yos Sudarso. Massa dan tentara saling berhadapan namun sebelumnya massa juga menuntut agar keempat rekannya yang ditahan agar dibebaskan. Anehnya, tidak terlihat polisi satupun di lokasi.

Massa yang berada di jalan mengumandangkan takbir. Namun, tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju hingga melukai ratusan orang.

“Akibat dari tragedi Tanjung Priuk tersebut ratusan orang tewas, banyak yang menghilang,”  kata aktivis Kontras, Ali Nursahid kepada okezone, Kamis (9/6/2011).

Salah satu korban adalah Amir Biki. Menurut Ali saat ini pihak keluarga menuntut keadilan atas meninggalnya korban.

“Amir Biki seorang pengusaha di sana menjadi korban, dia mensupport  jamaah, saat ini adiknya Deny Biki menuntut keadilan,” tandasnya.

Ali mengatakan, saat ini banyak dari pihak keluarga yang sudah melakukan islah (damai) dengan pemerintah, namun ada juga yang masih berjuang di pengadilan.

Tragedi Tanjung Priuk dalam catatan okezone adalah peristiwa kedua setelah Peristiwa Malari yang juga berakibat banyaknya korban tewas. (abe)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Selingkuh, Novi Tewas Ditangan Suami