GUNUNGKIDUL - Ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas kelimpahan rejeki diungkapkan dalam berbagai bentuk. Salah satunya dengan melestarikan tradisi Cing-cing Goling, yang sudah turun temurun dilakukan warga Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta.
Warga setempat menyembelih ratusan ayam kampung untuk kemudian dimasak dan dijadikan sesaji. Daging ayam disajikan bersama nasi uduk dan lauk yang lain, kemudian dibagikan kepada para pengunjung yang hadir dalam ritual yang dilaksanakan di dekat bendungan Kali Dawe desa setempat, Kamis (16/6/2011).
Tradisi yang dilaksanakan bersamaan upacara bersih desa ini menceriterakan tentang keberhasilan pelarian prajurit Majapahit pada abad ke V, tepatnya pada tahun 1400 Masehi. Alkisah saat itu Wisangsanjaya dan Yudopati berhasil membuat sungai dan bendungan sehingga bisa mengairi lahan yang ada menjadi sawah dan membuat warga setempat menjadi semakin sejahtera.
Konon, hanya dengan senjata dalam bentuk tongkat, cambuk, dan cemeti yang digoreskan pada tanah sambil berjalan, bekas goresan itu berubah menjadi sungai dengan air yang mengucur deras.
Pada acara ritual ini bukan hanya ratusan warga berkumpul di bawah pohon besar yang tumbuh subur dan rindang untuk kenduri massal, tapi juga menyaksikan adegan tarian selama kurang lebih 30 menit, menceriterakan pelarian prajurit Majapahit yang sudah bersatu dengan warga setempat, dalam mengusir penjahat.
Pada adegan ini puluhan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga setempat, di lahan di sekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat. Meskipun tanaman diinjak-injak, tetapi petani setempat tidak marah justru mengharapkan berkah. Karena warga setempat percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, tetapi justru bertambah subur.
Dalam upacara ini ratusan masyarakat yang membawa makanan berupa nasi uduk, lauk pauk, dan ayam ingkung, dikumpulkan oleh panitia. Selesai upacara seluruh makanan di bagikan kepada masyarakat yang mengikuti prosesi ini. “Ini bentuk ungkapan syukur masyarakat atas kelimpahan rejeki berupa panen yang berlimpah, atas rahmat Tuhan,” kata Sugito, sesepuh masyarakat.
Masyarakat sekitar percaya jika makanan itu dibawa pulang ke rumah akan membawa berkah tersendiri bagi kehidupan setahun mendatang. ”Ya semoga panen besuk lebih baik dari tahun lalu,” ujar Tuminah, warga desa setempat.
Dalam penyajian makanan di dalam upacara tersebut ada pantangan, tidak boleh dicicipi, harus ikhlas, dan tidak boleh ada tempe kedelai. Masyarakat sekitar percaya jika salah satu pantangan itu dilanggar akan menyebabkan celaka. ”Itu kan sudah tradisi, jadi kami tidak berani membantahnya,” katanya.
Upacara ritual tahunan ini mendapat perhatian ratusan pengunjung dari berbagai wilayah DIY, dan Jawa Tengah yang datang secara khusus untuk mengikuti prosesi ini. Sebagaimana dikatakan Bupati Gunungkidul Badingah, ritual ini bukan hanya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur pada Tuhan, tetapi sebagai upaya untuk nguri-uri kebudayaan yang selama ini dipercaya oleh warga setempat. “Ini aset yang menarik, sehingga ke depan bisa diagendakan untuk bisa lebih menarik wisatawan,” pintanya.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.