tragedi sukhoi

Mendiknas Tetap Tak Percaya Ada Contek Massal

Rabu, 22 Juni 2011 03:12 wib

JAKARTA – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh meminta setiap pihak yang menyatakan ada contek massal di SDN Gadel untuk memberikan bukti.

Mendiknas menyatakan, setiap pengamat maupun tokoh masyarakat yang menyatakan ada peristiwa contek massal untuk membawa bukti kejadian ke masyarakat. Katanya, boleh-boleh saja setiap orang menyatakan sesuatu namun jika tidak disertai bukti otentik maka pernyataan tersebut dapat dikatakan sebagai kebohongan massal yang merugikan berbagai pihak.

Mantan menkominfo ini menambahkan, sudah terlanjur ada opini publik yang menyatakan ada contek massal di SDN Gadel Surabaya. Namun peristiwa tersebut diketahui dari mana. Yang diketahui adalah ada perintah dari seorang guru yang meminta seorang siswa pintar untuk memberikan contekan. “Namun itu hanya sekedar perintah. Kalau saya memerintah kan untuk merampok kan belum tentu perampokan itu terjadi,” katanya usai Seminar on Improving Female Literacy in Cooperation with Women NGOs.

Mendiknas menegaskan, tidak ada contek massal yang terjadi di sekolah tersebut. M Nuh menyatakan, tidak apa-apa jika pernyataan tersebut berbenturan dengan opini masyarakat. Pasalnya, dirinya mempunyai bukti apabila tidak ada contek massal yakni dengan analisa lembar jawaban atas 60 peserta UN SDN Gadel. Katanya, setiap mata pelajaran yang diujikan seperti Bahasa Indonesia dan Matematika dilihat satu persatu kesalahannya berapa dan dinomor berapa saja.

Dari hasil analisa itu, jelasnya, tidak ada kesalahan yang sama antara satu siswa dengan yang lainnya. “Misalkan soal nomor 11 itu hampir semuanya salah semua. Tapi ada juga yang benar. Distribusinya salahnya juga berbeda disetiap soal. Setiap anak juga diperiksa dia itu salahnya di A atau B atau C dan dari situ pula tidak ada kesamaan. Ini bukti saya dan saya tidak apa-apa jika berbeda pendapat dengan masyarakat,” tegasnya.

Mendiknas menyayangkan, masyarakat mengambil opini itu hanya berdasarkan proses. Padahal, jika ada output yakni hasil ujian yang diperiksa secara seksama maka opini contek massal tidak akan berkembang sedemikian besar. Mendiknas pun memaklumi apabila ada sebagian masyarakat disana yang marah karena pada dasarnya tidak semua murid disekolah tersebut yang melakukan ketidakjujuran tersebut secara massal.

Kalaupun ada instruksi, lanjutnya, maka guru dan kepala sekolah yang membiarkan hal itu terjadi sudah diberikan sanksi. Tim investigative yang dibentuk oleh Provinsi Surabaya juga sudah membuat kesimpulan akan tidak adanya contek massal. “Makanya mereka tidak ngotot melakukan ujian ulang karena tidak ada itu contek massal. Yang terjadi hanyalah instruksi,” imbuh mantan Rektor ITS tersebut.

Pengamat Pendidikan Arief Rachman berkomentar, tindakan tegas harus diberikan kepada guru yang bersangkutan. jangan hanya menurunkan status pegawainya namun harus langsung dipecat.  “Kemdiknas harus tegas dalam menangani masalah ini. Pandangan saya,sebaiknya  gurunya dipecat dulu lah. Guru ini sudah merusak karakter siswa,” ungkap Arief.

Menurutnya, definisi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk melakukan proses pembelajaran dan mengembangkan potensi anak. Arahnya agar anak memiliki potensi spiritual, pengendalian diri, cerdas, bertanggungjawab dan demokratis.

“Tapi dalam kondisi ini, anak didik justru diajarkan untuk tidak mengenali dirinya, yakni menentang kebenaran dengan menyuruh satu anak menyebarkan jawaban. Wajar kalau anak  itu merasa tidak tenang, karena bertentangan dengan hati dan moral dia,”  jelasnya.

(Neneng Zubaidah/Koran SI/fer)

  • kardek » 0 Tanggapan
    pak nuh makanya jangan hanya duduk n terima laporannya yg bagus2 aja.tiap tahun un nyontek baik masal/perorangan terjadi terus.biasanya kalo didaerah anak2 disuruh gurunya patungan buat nyogok pengawasnya supaya boleh nyotek.guru2 sekarang mah banyakan gak bsa ngajar bsanya jualan n ngrumpi makanya kalo un muridnya boleh nyontek.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • 2gino » 0 Tanggapan
    Duh Pak Mendiknas, jangan takabur. Yg kami sebagai org tua murid pewrnah alami, utk unian SD dan SMP seolah2 dilakukan pengawasan ketat. Tapi begitu lewat 30' ujian, pengawasnya dg bsisk2 membagikan jawaban kpd peserta ujian. Ini menggejala pd semua sekokah, yg rupanya sdh ada kesepahaman antara sekolah dan para pengawas ujian. Yg cerdas donk, masa Prof,DR pendek bnr cara mikirnya.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • aliibrahim » 0 Tanggapan
    saya hanya mengingat kembali pernyataan pak nuh saya tidak punya target yang punya target itu kepala daerah, biarkan saja anak itu mendapatkan nilai berapa dan lulus, untuk menentukan sekolah itu /daerah itu pendidikannya berkwalitas atau tudak dilihat dari berapa besar siswanya diterima disekolah yang lebih tinggi pada umumnya suatu sekolah nengambil siswa yang berkwalitas tinggi diambil berdasarkan hasil seleksi ujian tes bukan berdasarkan nilai UN / ijazah kalaupun ada yang bermain jumlah akan lebih kecil dan kwalitas sekolahnya akan menurun dengan sendirinya ok pakkkkkkkkkkkk
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Aditya » 0 Tanggapan
    contek masal aja bisa tolak sd,sma,smp dan juga smu yg jd kasus contekan masal,biarin aja tetap contek alias mata pada jereng
    Beri Tanggapan Laporkan
  • dynamite » 0 Tanggapan
    mendiknas kok seolah olah kayak tutup mata ada kecurangan. buka matamu pak, liat yg terjadi
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.