Heboh Berdebat Tentang Gay & Lesbi

Image: corbis.com

Heboh Berdebat Tentang Gay & Lesbi
JAKARTA - Kompetisi debat biasanya menghadirkan suasana seru. Apalagi jika tema yang diangkat dalam kompetisi debat adalah hal yang belum lazim dibicarakan masyarakat, fenomena gay dan lesbi.

Tema itulah yang diusung oleh Universitas Diponegoro (undip) dalam National University English Debating Championship (NUEDC) pada 21-25 Juni 2011. Dalam lomba yang dihelat oleh Undip bekerja sama dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) ini, 95 perguruan tinggi ikut ambil bagian. Mereka dibagi ke dalam delapan wilayah kompetisi.  

Ketua koordinator mahasiswa dalam NUEDC 2011 Rizqy Aqita menjelaskan, tema tentang gay dan lesbian sangat menarik karena sudah menjadi isu global yang memerlukan pemikiran dan solusi terbaik.

"Di beberapa anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih ada beberapa negara anggota yang menerapkan hukuman bagi warganya apabila ketahuan menjalin hubungan sesama jenis. Kontroversi apakah hal tersebut masih pantas diberlakukan atau dianggap melangar HAM menjadi topik yang sangat relevan buat didiskusikan," kata Rizqy seperti dikutip dari keterangan tertulis Undip, Kamis (23/6/2011).

Pada kompetisi ini, tiap peserta harus menjalani tiga babak penyisihan. Tim peserta dibagi menjadi dua grup, yakni main group dan movice group. Main Group adalah group yang sudah lolos babak penyisihan tingkat nasional yang dibagi dalam dua belas wilayah. Proses seleksi ke-32 tim yang termasuk dalam grup ini sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu.

Sementara, movice group adalah kelompok yang belum pernah mengikuti penyisihan atau kompetisi sebelumnya tingkat nasional. Kelompok ini akan terdiri dari 16 tim perwakilan perguruan tinggi.

Mahasiswa FE Undip Jurusan Manajemen ini memaparkan, selain isu sosial, NUEDC 2011 juga mengangkat isu ekonomi. Para peserta di antaranya akan berdebat tentang relevansi penggunaan indikator Gross Domestic Bruto sebagai alat ukur kesejahteraan suat bangsa.

"Tema lain yang cukup menarik adalah, perlukah setiap perusahaan menyertakan berapa jumlah alokasi dana yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan untuk menangani masalah lingkungan di label produk yang dijual," Rizqy mengimbuhkan.

Tahun ini, ada dua kampus mengundurkan diri dari NUEDC. Mereka adalah Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta,  dan Universitas Yapis, Jayapura. (rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Bocah TK Ini Panggil Ahok "Pak Presiden"