LOSARI- Setiap kebijakan pembangunan tentu ada risikonya. Idealnya, pemerintah selaku pihak yang mengeluarkan kebijakan memilih risiko terkecil. Namun, meski kecil selayaknya pemerintah tak melupakan nasib mereka.
Seperti dialami Susi, seorang pemilik warung makan di wilayah pembangunan tol Kanci-Pejagan. Semenjak dibangung jalan Tol Kanci-Pejagan, Susi merasa rumah makan miliknya tak lagi ramai seperti sebelum dibangun jalan Tol Kanci-Pejagan.
Pengamatan okezone di lapangan, Rabu (13/7/2011), rumah makan-rumah makan tersebut tampak tidak terawat bahkan seperti tempat yang tidak berpenghuni. Selain itu, pasir dan debu bertebaran sepanjang rumah makan yang menyediakan masakan khas Cirebon itu.
Susi mengatakan, selain terancam tutup warga di sekitar juga banyak yang menjual tanahnya kepada PLTU yang terletak tidak jauh. "Karena adanya tol ini, pendapatan kami berkurang" ujarnya kepada okezone.
Menurut wanita yang sudah dua puluh tahun menempati rumah makan tersebut, berencana akan menjual jika ada kesepakatan antara calon pembeli.
"Kalau warga sini jual tanah ke PLTU antara Rp40 ribu sampai Rp90 ribu permeter," ujarnya.
Menurutnya, saat ini yang masih bertahan adalah rumah makan miliknya, sementara yang lainnya sudah dijual. Namun dia berkeyakinan, Lebaran nanti rumah makannya akan ramai pada saat mudik.
(Ahmad Dani)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.