JAYAPURA - Jumlah korban tewas akibat serangan orang tak dikenal di Kampung Nafri, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, bertambah menjadi tujuh orang.
“Korban tewas hingga kini sudah tujuh orang, tapi kami belum bisa memberikan keterangan karena masih mengumpulkan data dulu,” ungkap Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono kepada okezone, Senin (1/8/2011).
Penembakan di Kampung Nafri terjadi pukul 03.15 WIT, saat warga hendak melakukan perjalanan dari Kampung Arso menuju Distrik Abepura.
Tepat di tanjakan Nafri, salah satu angkutan umum berhenti guna mengangkut penumpang tiba-tiba dari arah belakang sekelompok orang melakukan penyerangan disertai suara tembakan. Tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, tiga lainnya mengalami loka bacok.
Satu jam kemudian, aparat dari Polresta Jayapura tiba ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan evakuasi korban.
Dari hasil olah TKP, didapati dua korban dalam keadaan tewas di dalam mobil Toyota Hilux DS 5851 AD, satu jenazah berada di dalam angkutan dengan nomor polisi DS 7117 A. Selain itu ditemukan pula sebuah Bendera Bintang Kejora yang ditancapkan di pinggir jalan di sekitar TKP.
Sebelumnya, aksi serupa juga terjadi pada November 2010 lalu. Satu warga sipil tewas akibat insiden tersebut.
Kapolres Jayapura AKBP Imam Setiawan mengatakan lokasi kejadian penembakan pada November 2010 sama dengan lokasi pada Senin dini hari tadi.
Meski demikian belum diketahui pasti motif penembakan. Polisi mengamankan beberapa senjata tajam dan amnuisi di TKP.
Sementara itu, pascainsiden sejumlah pasar trasional di Jayapura mengalami kekosongan bahan makanan. Pasalnya 75 persen dari stok bahan makanan di Kota Jayapura dipasok dari Kampung Arso dan Kampung Koya.
Untuk menempuh dua kampung tersebut harus melalui Kampung Nafri yang merupakan lokasi penembakan. Berdasarkan pantauan okezone di sejumlah pasar, stok bahan makanan seperti sayur dan umbi-umbian serta tomat dan cabai kosong.
Pedagang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menaikan harga dua kali lipat.
Sayur bayam yang biasanya dijual dengan harga satuan Rp4.000 per ikat kini dijual Rp7.000 per ikat, tomat dari Rp8.000 menjadi Rp15 ribu.
“Soalnya tidak ada stok yang dipasok dari Arso, tidak tahu kenapa hari ini petani di sana tidak memasok hasil taninya,” ujar Ama, pedagang Pasar Hamad.
Warga mengaku kaget dengan harga yang dipatok pedagang, pasalnya Minggu 31 Juli kemarin harga bahan makanan masih normal dan tiba-tiba naik dalam kurun waktu semalam.
“Kaget saja harga sayur mayur bisa naik, padahal kemarin harganya masih normal. Mau tidak mau harus beli. Kalau tidak beli mau buka puasa dengan apa?” ungkap Jenny, warga Jayapura.
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.