tragedi sukhoi

Ratna Ningsih Diduga Derita Steven-Johnson

Ray Jordan - Okezone
Jum'at, 5 Agustus 2011 18:53 wib
Ratna dirawat di RS UKI
Ratna dirawat di RS UKI

JAKARTA – Ratna Ningsih (22), pasien yang wajahnya rusak parah setelah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (RS UKI), diduga terserang penyakit Steven-Johnson (SSJ). Penyakit ini diakibatkan tubuh Ratna tak kuat menahan zat tertentu dalam obat hingga bereaksi hipersensitif.
 
Hal tersebut dikatakan Direktur Pelayanan Medik RS UKI Poltak Hutagalung.
 
"Jadi bukan kesalahan obat yang diberi,” katanya kepada wartawan di RS UKI, Jakarta, Jumat (5/8/2011).
 
Dia menjelaskan, masing-masing orang memiliki tingkat ketahanan berbeda terhadap sesuatu baik obat, makanan, atau zat kimialainnya. Penyakit Steven-Johnson sendiri bukan termasuk jenis langka karena awam ditemukan.
 
“Saya sudah beberapa tahun menjadi dokter dan penyakit ini tidak terlalu langka, 1 banding 1000 dan kita akan fokus untuk penyembuhan penyakitnya. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan pasien,” jelasnya seraya menambahkan Ratna perlu dirawat di ruang khusus untuk menghindarkannya dari infeksi.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati yang mengunjungi Ratna mengatakan, Dinas Kesehatan dan tim dokter dari RS UKI saat ini lebih fokus untuk menyembuhkan pasien, setelah itu barulah nanti diperiksa jenis alergi yang menyerang Ratna Ningsih.
 
“Fokus kita sekarang ini adalah penyembuhan pasien. Nanti kita akan cek kena alergi apa. Yang pasti penyakit seperti ini bisa menyerang siapa saja yang tidak kuat terhadap obat,” ujar Dien Emawati di RS UKI, Jakarta, Jumat (5/8/2011).
 
Terkait dengan dugaan malapraktik terhadap Ratna Ningsih, Dien belum bisa menyimpulkan. Menurutnya, pada saat pemberian obat dilakukan oleh seorang dokter yang sesuai dengan kapasitasnya dan prosedur yang berlaku. Oleh karena itu, pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk membuktikan apakah dugaan tersebut.
 
"Yang memberikan itu adalah dokter sesuai dengan protapnya. Dan kita sudah cek. Hal seperti ini bisa terjadi pada siapa pun. Kita akan cek nanti apakah terjadi kesalahan prosedur atau tidak. Yang jelas obat itu diberikan oleh seorang dokter yang memiliki kompetensi untuk memberikan obat. Kita juga akan cek secara keseluruhan termasuk ke kliniknya,"katanya.
 
"Tentu kita harus dicek dulu alerginya terhadap apa. Apakah antibiotik atau analgetik, karena ada dua obat yang bisa menimbulkan alergi. Tapi tahap awal kita sembuhkan total baru kemudian kita cek alerginya apa,"imbuhnya.

(abe)

  • Sacy » 0 Tanggapan
    Yah, penyakit yg sangat aneh..pasien akan menjadi rentan alergi seumur hidupnya, sementara antibodinya menjadi hipersensitif, sehingga apapun yg masuk ke tubuh untuk mengobati alerginya, dianggap penyakit. Efeknya? Seluruh tubuh seperti terbakar dan melepuh, rasa sakit sampai ke tulang2. . Obatnya? Cuci darah/ozonisasi!! Biayanya? Saat ini 2 jt-3jt sekali ozon. Sembuh? Ya, tp kalau kena pencetus alerginya lagi, akan kambuh lagi. Yang aneh adalah, semakin lama, alergi si pasien akan terus bertambah pada jenis makanan atau zat obat yg lain. Ini yg repot. Kalau hanya alergi pd 1 jenis zat saja sih Tidak terlalu masalah!, tp kalau seiring waktu jadi alergi sama yg laen2, kan jadi repot. Tidak boleh makan sembarangan, kalau sakit tidak boleh minum obat pasar, semua jd terbatas. Itu Seumur hidupnya loh! Kasihan.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.