Maestro Cianjuran & Dosen Kawih Sunda Tutup Usia

|

Foto : Iman Herdiana/okezone

Maestro Cianjuran & Dosen Kawih Sunda Tutup Usia

BANDUNG - Kamis dini hari sekira pukul 02.15, Euis Komariah, mantan dosen luar biasa di University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat (2007), mengembuskan napas terakhirnya.

Jenazah maestro Sunda ini lalu disemayamkan di rumah duka Jalan Kopo 15 Bandung, Jawa Barat. Sekira pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan ke pemakaman di Desa Wangisagara, Cipadaluan, Majalaya.

Sejumlah seniman dan pejabat melayat ke rumah duka di antaranya Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Anggota Komisi X DPR RI Popong Djundjunan, Sup Yusuf, Aom Kusman, dan trio Bimbo yakni Acil, Sam, dan Jaka.

Sebelum meninggal, pelantun lagu Sorban Palid ini sempat dirawat di Rumah Sakit Santosa dengan keluhan maag. Adik ipar almarhum, Ajat Sudrajat (59) menyebutkan, almarhum meninggal begitu mendadak. Sebelum masuk rumah sakit, almarhum sempat beraktivitas seperti biasa yaitu nyanyi.

"Dua hari lalu dirawat di RS Sentosa. Kelihatannya tidak parah karena tiga hari lalu masih latihan bareng di Jugala (grupnya)," tutur Ajat, kepada okezone di rumah duka, Kamis (11/8/2011).

Istri pencipta tari jaipongan Gugum Gumbira itu, kata Ajat, meninggalkan empat anak dan 11 cicit. Almarhum yang pernah ngajar musik di Universitas Padjdjaran (Unpad) tersebut meninggal dalam usia 62 tahun.

Popong Djunjunan mengaku sangat kehilangan dengan meninggalnya sang maestro. Awal dia mengenal Euis ketika almarhum menjuarai pasanggiri Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Jawa Barat 1968.

Selanjutnya, Popong bersama almarhum pernah melakukan lawatan dengan misi budaya ke Jepang (1987) dan Amerika Serikat (1990). Di Jepang, rombongan menghadiri ekspo kebudayaan yang dilakukan di beberapa kota.

"Waktu itu Euis tampil dengan Nano S. Sambutannya luar biasa, tepuk tangannya enggak berhenti-berhenti," cerita Popong.

Euis, lanjut Popong, juga tampil di AS (1990) dalam pameran kebudayaan Indonesia bersama dalang kondang Asep Sunandar. "Dunia seni jelas sangat kehilangan. Almarhum sudah mengharumkan Indonesia di luar negeri," ungkapnya.

Dia berharap, generasi muda kini bisa meneladani keuletan dan konsistensi Euis. Sehingga bisa muncul seniman-seniman Sunda yang berprestasi di dalam dan luar negeri seperti Euis.

"Jika anak muda bisa ulet dan konsisten, mungkin akan timbul 1.000 Euis lainnya. Kita harus menteladani apa yang dilakukannya," harapnya.

Dosen Tari Rakyat Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Mas Nanu Muda, mengungkapkan Euis merupakan salah satu pendiri grup degung Dewi Permanik (1977/1978) dan juga grup cianjuran Jugala. "Lagu-lagunyanya mencapai ratusan, karena dia sudah nyanyi sejak 70-an," tutur Nanu.

Lagu tersebut di antaranya Sorban Palid, Salam Sono Juga, dan Duh Ieung. Maestro kelahiran Majalaya itu juga giat mengamalkan ilmunya, khususnya pada bidang gamelan dan kawih Sunda. Bahkan dia mengajar di sejumlah kampus di dalam dan luar negeri.

Euis pernah ngajar di Konservatori Karawitan (Kokar) yang kini menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMK I) Bandung pada 1970; dosen luar biasa di (Unpad) pada 1980; dan aktif di Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad.

Almarhum sempat diundang menjadi dosen luar tamu untuk mengajar gamelan sunda dan kawih di sejumlah kampus luar negeri, salah satunya di University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat (2007).

(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    JK: Tak Semua Pemilik Rekening Gendut Koruptor