WASPADALAH, aksi kejahatan selalu mengintai Anda. Terutama pemudik yang menggunakan angkutan umum seperti bus, kereta api, kapal, kapal laut, bahkan pesawat terbang.
Salah satu kejahatan yang mengintai pemudik adalah pembiusan. Modus kejahatan ini menjadikan korban tidak sadarkan diri setelah diberi makanan atau minuman yang telah dicampur dengan obat bius. Seperti menimpa seorang pria yang ditemukan pingsan saat tiba di Terminal Madiun, Jawa Timur, Sabtu 20 Agustus 2011. Korban dibius dalam bus PO Cendana, perjalanan dari Surabaya menuju Madiun.
Korban yang berusia 35 tahun itu dilarikan ke di Unit Gawat Darurat RSUP Sudono, Madiun, untuk menghilangkan pengaruh obat bius. Seluruh barang bawaan korban hilang termasuk kartu identitas dan dompetnya. Polisi hanya menemukan lembaran tiket kapal laut dan karcis bus.
Kejadian nahas juga menimpa Ahmadi (25) dan Tarnoto (27), dua buruh bangunan di Pontianak, Kalimantan Barat menjadi korban pembiusan di Terminal Rawamangun, pekan lalu. Kedua pria asal Kerangkeng, Indramayu, Jawa Barat itu ditemukan terkulai di depan Kantor PLN, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, setelah ditawari makanan kolak oleh seseorang yang baru dikenalnya.
Modus pembiusan lewat makanan dan minuman memang populer. Zat bius dimasukkan ke gelas atau botol minuman dengan cara disuntikkan. Selanjutnya lubang suntikan itu ditutup dengan lem. Sifatnya yang tidak berasa, membuat kondisi minuman tidak berubah.
Tren terbaru para penjahat memperdaya korbannya dengan menyamar sebagai penjual teh. Tak anggung-tanggung pelaku adalah adalah wanita cantik yang berpura-pura menjadi SPG. Begitu korban disuruh mencium aroma teh yang ditawarkan di atas bus atau tempat-tempat umum dan dituruti, tak berselang lama kemudian pasti jatuh pingsan. Sebab, teh dalam kemasan yang ditawarkan, sebelumnya telah dicampur dengan obat pembius.
Jika sebelumnya pelaku pembiusan melancarkan aksinya lewat makanan dan minuman, ada juga beraksi lewat parfum. Modus pembiusan lewat parfum ini tentunya berbeda cara dengan aksi pembiusan dengan memberi minuman, makanan, ataupun menepuk. Pelaku berpura-pura menjadi penjual parfum. Pelaku yang nekat menyemprotkan parfum yang sudah dicampur bius lalu memaksa korban untuk membelinya. Diam-diam pembiusan tersebut telah terjadi lewat aroma parfum yang sudah disemprotkan tadi.
Hampir mirip dengan bius parfum, yakni bius menggunakan asap rokok tembakau yang dicampur biji atau bunga kecubung. Pelaku bisa memberikan rokok kecubung kepada korban atau mengembuskan asap rokok kecubung kepada korban yang mengantuk atau tengah tertidur pulas. Korbannya adalah Muhammad Nuraini (23), warga Cengkareng, Babat, Lamongan. Penumpang bus jurusan Surabaya-Lamongan ini hilang kesadaran hingga harus dirawat di RSU Dr Soetomo Surabaya, pada pertengahan Desember tahun lalu.
Maraknya pembiusan di bus kota ini cukup meresahkan masyarakat. Apalagi menjelang musim mudik Lebaran ini. Pemudik yang lengah akan menjadi sasaran empuk pelaku pembiusan. Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Baharudin Djafar menyarankan agar pemudik tidak mengosongkan pikirannya atau lebih baik mengisi perjalanan dengan berdoa.
"Jadi kalau misalnya pembiusan atau hipnotis itu tentu kita harus sadar dulu, itu caranya dengan dzikir, berdoa, mendekatkan diri pada yang Kuasa," katanya di Mapolda Metro Jaya, belum lama ini.
Selain itu, Baharudin, menyarankan juga agar selalu mengingatkan setiap anggota rombongan, dan sebaiknya tidak berpergian sendirian. Pemudik juga harus membentengi diri dari orang yang baru dikenal. "Kalau ada orang yang tak dikenal komunikasi, sebaiknya dibatasi," sarannya.
Baharudin mengingatkan lagi, "Jangan mudah mencium, kalau ada hal-hal yang mencurigakan. Kalau kita ragu, sampaikan dulu pada orang tersebut, minta dia melakukannya duluan."
(ram)