tragedi sukhoi

Berdamai dengan Teroris, Mungkinkah?

Muhammad Saifullah - Okezone
Selasa, 4 Oktober 2011 07:56 wib
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

SEJARAH panjang gerakan teroris telah tercatat dalam perjalanan bangsa ini. Publik pun secara perlahan tapi pasti mulai muak dengan aksi-aksi teror yang terjadi dan diprediksi akan terus bermunculan.
 
Sebagian masyarakat percaya aksi teror benar-benar dilakukan jaringan kelompok radikal, namun banyak juga yang tidak percaya begitu saja.
 
Lantas sampai kapan aksi-aksi teror ini akan terus terjadi. Tidak adakah solusi atas akar persoalannya? Sehingga bangsa ini bisa hidup berdampingan dengan para teroris, dalam damai. Berikut petikan wawancara okezone dengan pengamat terorisme Al Chaidar di Jakarta, Selasa (4/10/2011).


Menurut Bapak adakah pendekatan lain untuk meredam aksi terorisme yang belum dilakukan pemerintah?
 
Sebetulnya ada cara lain mengatasi terorisme, yaitu dengan cara membuat perjanjian damai dengan mereka, tapi itu tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah karena pemerintah telah menegaskan tidak ada kompromi dan negosiasi.
 
Menurut saya, metode yang soft dengan cara deradikalisasi atau reinpresentasi, itu jauh lebih efektif (ketimbang represif).


Konkretnya seperti apa perjanjian damai ini?



Mirip Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki antara Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).


Kalaupun ada perjanjian damai, apakah ada jaminan akan ditaati oleh anggota kelompok teroris?
 
Mereka akan taat dengan orang yang menandatangani perjanjian itu. Cara ini bisa diupayakan, tapi memang agak susah.
 
Mereka punya ulama, punya organisasi induk, seperti Darul Islam, meski pecah 14 kelompok tapi ada faksi yang diakui oleh banyak kelompok, yaitu faksi Ali Mahfud. Insya Allah mereka akan menaati (perjanjian damai).

(ful)