TERNATE - Sebanyak 13 pelaku judi sabung ayam dijaring polisi saat tengah beraksi, di salah satu rumah di kawasan depan RSUD Chasan Boesoeri, RT 13 RW 04 kelurahan Maliaro, Ternate Selatan.
Para pelaku bersama barang bukti ayam dan uang dengan nilai ratusan ribu rupiah berhasil diamankan polisi, sekitar pukul 18.10 WIT, Minggu (16/10/2011) petang.
Pelaku tersebut langsung diangkut dengan mobil patroli untuk digelandang ke Mapolres Ternate. Jumlah tersebut bisa jadi lebih jika saja aksi penggrebekan itu tidak diketahui pelaku lainnya yang berhasil meloloskan diri dari kepungan polisi.
Anehnya, usai diperiksa, para pelaku lalu diperbolehkan pulang. Polisi beralasan, tidak cukup alat bukti untuk menjerat para pelaku.
“Bukti uang itu saat digrebek petugas dalam kantong pelaku jadi bukan uang yang dipertaruhkan sehingga sulit dibuktikan bahwa mereka berjudi,” jelas Kepala SPK Polres Ternate, Ipda Eko Mario Santosa saat dikonfirmasi wartawan.
Hal senada juga dikatakan Kasat Reskrim Polres Ternate, Mohammad Dafi Bastomi. Dalam keterangannya, Bastomi menjelaskan, pelaku sabung ayam belum bisa dibuktikan tentang perjudian.
“Tanpa adanya unsur uang yang di pertaruhkan sulit untuk menjerat mereka dengan pasal perjudian. Hanya saja, mereka diamankan di Polres Ternate untuk didata, diberikan pengarahan, dan nanti kita awasi, kalau benar-benar terbukti maka kita proses,” jelasnya.
“Saat pengrebekan pelaku sudah pada bubar. Orang orang yang masih berada di TKP tidak sedang beradu uang sebagai taruhan juga tidak ada. Selain itu tak ada saksi yang menjelaskan kalau itu judi,” imbuh Bastomi.
Hanya saja, sejumlah wartawan yang meliput langsung aksi penggrebekan itu sedikit merasa aneh dengan sikap polisi. Dari keterangan salah satu wartawan menyebut, polisi terkesan “meloloskan” sejumlah pelaku yang lari melalui pintu belakang rumah tersebut.
“Bahkan ada anggota polisi berpakaian preman yang jelas-jelas meloloskan seorang pelaku dan memarahi kami (wartawan) karena mengambil gambar orang saat yang kami tangkap basah menaiki tembok pagar sambil menenteng ayam dan sebuah tas hitam,” kata Erwin, wartawan foto.
Polisi itu, kata Erwin yang diiyakan rekannya Syamsir, terpantau wartawan menyuruh orang tersebut untuk pergi. “Bahkan dia menghardik kami sambil mengatakan, kalian itu wartawan bukan polisi jadi tidak berhak menangkap orang,” kata Erwin menirukan polisi yang dikenalinya itu.
Sebelumnya, para pemburu berita sudah merasa janggal dengan adanya larangan untuk masuk ke TKP oleh polisi. Wartawan yang ingin masuk untuk mengambil gambar di lokasi TKP, terpaksa harus gigit jari dan akhirnya memilih menyusuri bagian belakang rumah tersebut.
“Disitulah kami menyaksikan dengan mata kepala polisi meloloskan sebagian pelaku,” pungkas Erwin.
(Ferdinan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.