JAKARTA - Penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan langkah kongkrit transformasi kebudayaan ke dalam pendidikan.
Hal itu disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Demokrat Inggrid Kansil dalam pernyataan persnya yang diterima wartawan bersamaan dengan pembukaan Gerakan Nasional Cinta Musium (GNMC) di Musium Nasional Gajah Mada Jakarta, Senin (24/10/2011).
"Karena pendidikan bagi saya pencerdasan, sedangkan kebudayaan sendiri adalah pencerahan bagi generasi Indonesia. Sehingga saya sangat mengapresiasi penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai langkah kongkrit transformasi kebudayaan ke dalam pendidikan," kata Inggrid.
Pada kesempatan itu pula dia juga menjelaskan bahwa kegiatan itu digabungkan dengan edukasi tentang jelajah budaya Jawa bersama 1.000 anak SD dari 20 Sekolah Dasar di Jakarta. Kegiatan itu dilaksanakan oleh Komunitas Laksita Mardhawa.
Menurut dia pendekatannya sangat kreatif yakni anak-anak SD diajarkan membatik mewarnai kulit, membuat bakpia dan berkerawitan alias Nabuh Gamelan.
Inggrid menambahkan, kegiatan ini adalah kerja kongkrit dalam mendukung seluruh stakholder tidak hanya budayawan dan pencinta seni lainnya untuk terus mencintai warisan budaya Indonesia.
"Bahkan saya juga berharap untuk terus mendorong pihak swasta untuk ikut juga bergabung menghidupkan musium dengan mengisi salah satunya stand jajanan dan coffee sehingga membuat pengunjung menjadi betah. Tentunya lama kelamaan musium kita dan minta tersebut terus meningkat," imbuhnya.
Hal yang paling penting kata Inggrid, kegiatan itu merupakan transformasi budaya bagi anak-anak sekolah sebagai salah satu pembentukan karakter anak untuk mencintai budayanya sendiri diantaranya kegiatan membatik dan berkerawitan bisa menumbuhkan kreativitas anak-anak sejak dini.
"Bahkan saya melihat kegiatan budaya jelajah semacam ini menjadi bukti kuat di mana kebudayaan memiliki hubungan sangat kuat dengan dunia pendidikan," tegasnya.
Gagasan melestarikan batik pun dilakukan oleh Kota Solo melalui kurikulum pendidikan (mulok) di sekolah-sekolah mereka, dari tingkat TK hingga SMU, dimana tujuan mereka agar batik terus membudaya di kota Solo.
"Gagasan ini menurut saya sangat kongkrit dan harus menjadi contoh setiap daerah yang memiliki kekhasan masing-masing budaya di daerah mereka masing-masing.
Selain itu Konsen terhadap anak-anak ini, bagian dari kerja saya di Komisi VIII yang menangani perempuan dan anak," tandasnya.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.