tragedi sukhoi

Mobilisasi Politik Harus Dengan Cara yang Baik

Tri Kurniawan - Okezone
Minggu, 30 Oktober 2011 06:59 wib
Reuters
Reuters

JAKARTA - Mobilisasi politik untuk menjaring banyak kader bisa dilakukan dengan berbagai cara. Namun menurut Pengamat Politik Charta Politika Arya Fernandes mobilisasi politik harus tetap menggunakan cara-cara yang baik.

"Saya kira orang bisa melakukan banyak hal untuk mobilisasi politik, tapi harus tetap mengedepankan cara-cara yang baik," kata arya saat berbincang dengan okezone, Minggu (30/10/20110.

Sebelumnya, pada saat perayaan HUT Partai Golkar ke-47 di Gelora Bung Karno, ternyata yang hadir tidak seluruhnya kader partai berlambang pohon beringin itu.

Murni (nama samaran), perempuan berasal dari Majelis Ta'lim Pandeglang, Banten. Kepada okezone, mengaku bahwa dirinya ternyata ditipu oleh salah satu anggota majelis ta'limnya.

Murni awalnya diajak ke acara Tabligh Akbar. Dia sama sekali tidak tahu menahu jika acara yang didatanginya adalah HUT Partai Golkar. Hal sama seperti yang dialami oleh Ibu Nur, dari Bekasi. Ia juga mengira ini acara Tabligh Akbar ternyata bukan.

Kata Arya, mobilisasi politik dengan cara apapun biasanya dilakukan partai yang masih lemah. Namun cara-cara yang buruk tentu tidak akan mengena dihati masyarakat.

"Pola mobilisasi yang buruk tentu tidak akan efektif. Saya yakin Partai Golkar melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan menggunakan tokoh politik yang kuat," pungkasnya. (tri)
(crl)

  • taufiq » 0 Tanggapan
    Sangat disayangkan cara-cara lama dalam mobilisasi massa untuk acara organisasi tertentu masih dipergunakan. Mengerahkan massa menggunakan Majelis Taklim dengan undangan pengajian,tablig akbar namun kenyataannya acaranya lain HUT partai. Majelis Taklim yang datang mengharapkan mendapatkan siraman rohani tetapi malah terpaksa meninggalkan shalat azhar dan magrib. Setelah meninggalkan acara, yang keluar dari mulut adalah sumpah serapah. Bagi yang mengundang apakah sudah tidak takut akan dosa? Ini baru acara HUT, bagaimana nanti kalau pemilu. Perlu dipikirkan cara-cara yang lebih elegan, lebih terbuka. Mudah-mudahan hal yang demikian juga diperhatikan.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • taufiq » 0 Tanggapan
    Sangat disayangkan cara-cara lama dalam mobilisasi massa untuk acara organisasi tertentu masih dipergunakan. Mengerahkan massa menggunakan Majelis Taklim dengan undangan pengajian,tablig akbar namun kenyataannya acaranya lain HUT partai. Majelis Taklim yang datang mengharapkan mendapatkan siraman rohani tetapi malah terpaksa meninggalkan shalat azhar dan magrib. Setelah meninggalkan acara yang keluar dari mulut adalah sumpah serapah. Bagi yang mengundang apakah sudah tidak takut akan dosa? Ini baru acara HUT, bagaimana nanti kalau pemilu. Perlu dipikirkan cara-cara yang lebih elegan, lebih terbuka.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.