SURABAYA- Kasus penembakan terhadap seorang warga yang dilakukan oleh oknum kepolisian kian memperlebar jarak antara Polisi dengan masyarakat.
Padahal selama ini, korps berseragam coklat ini lagi gencar-gencarnya memulihkan citra.
"Tentunya kasus-kasus itu menjadikan Polisi melakukan langkah mundur. Artinya citra yang dibangun di masyarakat tercoreng," kata Bagong Suyanto, Sosiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya kepada okezone, Selasa (1/11/2011).
Bagong menjelaskan, sebelumnya ada jarak antara Polisi dengan masyarakat. Pihak Polisi menyadari hal itu, kemudian mengubah imej, termasuk mengganti seragam yang jauh dari kesan militer dan lebih ke sipil.
Tak hanya itu, slogan sebagai pengayom masyarakat juga disertakan di institusi Polri, termasuk dengan beberapa program kemitraan dengan masyarakat.
"Nah, usaha-usaha itulah memulihkan citra Polri. Tapi dengan kejadian penembakan akhir-akhir ini sama halnya Polisi melakukan langkah mundur," katanya.
Meski demikian, Bagong menepis jika kasus penembakan bisa memicu sentimen anti-Polisi. "Tentunya tidak se-ekstrem itu lah. Upaya Polda Jatim sudah bagus. Saya juga mengapresiasi karena langsung mengambil langkah-langkah," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kasus penembakan yang dilakukan oleh oknum polisi tercatat dua kali. Baru-baru ini Polisi menembak Riyadhus Solihin (40) warga Desa Sepande, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo, pada Jumat pekan lalu.
(kem)