JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengaku akan segera menerapkan pelajaran yang menjelaskan kiprah Syafrudin Prawiranegara dalam kurikulum pendidikan Sejarah Indonesia.
Hal tersebut di sampaikan M Nuh sebelum menghadiri Rapat Terbatas yang digelar di Kantor Presiden.
“Siapa saja yang pernah memberikan kontribusi bagi bangsa apa lagi sudah dikategorikan sebagai tokoh nasional dan diberikan penghormatan, maka wajar. Bahkan tanpa diminta kementerian harus lebih aktif menggali tokoh," kata Nuh, Rabu (9/11/2011).
Lebih lanjut, Nuh menambahkan dalam kurikulum pendidikan formal akan dijelaskan sosok Syafrudin sebagai mantan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS).
“Sejarah itu kan merekam apa yang sudah terjadi, oleh karena itu biarkan apa yang sudah terjadi itu pakai kaca mata konvergens," terangnya.
“Sejarahnya semua tahu ada masa transisi RIS, biarkan sejarah berbunyi apa adanya, jangan dikurangi, jangan ditambahi. Kalau sejarah dikurangi nilainya akan berbeda, biarkan sejarah bicara apa adanya.” Kata mantan Rektor Insitut Teknologi Sepuluh November (ITS) itu.
Seperti diketahui, Syafruddin ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemarin. Selama ini nama Syafrudin tidak terlalu menonjol dalam pelajaran sejarah karena kerap dikaitkan dengan gerakan PRRI yang dianggap pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno pada 1958.
Padahal, banyak kalangan berpendapat perannya sangat vital karena pernah menjabat Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. (abe)
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.