Pemerintah Kurang Tanggap Tangani Pneumonia

|

foto: shortnessofbreathsymptoms

Pemerintah Kurang Tanggap Tangani Pneumonia

JAKARTA- Perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap bahaya penyakit Pneumonia masih rendah, bahkan cendrung apatis. Pemerintah dinilai tidak punya upaya serius untuk mencegah menularnya penyakit itu.  

“Pemerintah harus aware (sadar) terhadap penyakit pneumonia, bukan hanya mengobati tetapi untuk jangka panjang. Kesadaran pemerintah soal bahaya penyakit ini masih sangat rendah,” kata Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Indonesia (UI) Dianiati Kusumo Sutoyo dalam pesan elektroniknya kepada okezone, (13/11/2011).

 

Dianiati menjelaskan ada kesadaran pemerintah tehadap penyakit tersebut, tetapi baru sebatas untuk kelompok anak-anak saja. Padahal kelompok dewasa dan orang tua juga banyak menderita penyakit itu, bahkan menyebabkan kematian yang cukup tinggi.

 

Perhatian pemerintah pun baru sebatas mengobati. Tidak ada upaya-upaya pencegahan jangka panjang untuk mengurangi penderita penyakit tersebut.

 

Pemerintah juga tidak ada kampanye bersama seperti kampanye anti Narkoba terhadap penyakit tersebut. Dia berharap pemerintah memberikan sosialisasi akan bahaya penyakit pneumonia.

 

“Kami mengharapkan pemerintah untuk menggalakan gerakan penyadaran terhadap penyakit pneumonia. Hal itu supaya masyarakat umum sadar akan bahaya penyakit tersebut karena kebanyakan masyarakat tidak paham dan tidak tahu,” ujar Dianiati yang sehari-hari juga praktik di Rumah Sakit Pershabatan, Jakarta Timur.

 

Pneumonia atau radang paru-paru merupakan sebuah penyakit pada paru-paru, di mana

pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru disebabkan infeksi oleh bakteri, virus, dan jamur. Radang paru-paru juga disebabkan kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru.

 

Penyakit ini sering muncul karena tingkat hunian yang padat, tingkat polusi yang tinggi, kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi alkohol yang berlebihan. Gejala yang terjadi adalah batuk, sakit dada, demam, dan kesulitan bernapas.

 

Data Fakultas Kedokteran UI menyebutkan, ada sekitar 4 juta warga Indonesia yang menderita penyakit itu per tahun. Dari jumlah itu, terdapat 12 orang dewasa per 1.000 orang dewasa yang menderita penyakit tersebut. Pasien rawat inap mencapai 600.000 per tahun dengan kerugian materil Rp 23 miliar.

 

Penyakit ini sebagai pembunuh nomor satu di dunia pada bayi dan anak-anak dibawah 5 tahun. Ada sekitar 2 juta yang meninggal tiap tahunnya karena penyakit tersebut. Itu berarti ada 1 kematian dalam setiap 15 detik pada bayi dan anak dibawah umur 5 tahun.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan advokasi dan sosialisasi mengenai penyakit ini akan terus ditingkatkan. Pembenahan surveilans dan tata laksana pneumonia juga terus dilakukan.

 

Selain itu, persoalan manajemen logistik dan peningkatan sumber daya manusia di bidang kesehatan juga terus dilakukan. Upaya lainnya adalah dengan perbaikan pencatatan dan pelaporan, serta kemitraan dan jejaring untuk menanggulangi penyebaran pneumonia, khususnya pada balita.

(opx)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kapolda Sumut: Penusukan Brimob Bukan Rentetan Bentrok di Batam