JAKARTA – Penempatan sekira 2500 personel marinir Amerika Serikat (AS) di Darwin, Australia patut dipertanyakan. Apalagi, ada dugaan AS punya kepentingan dengan dimensi politik meningkat di Papua.
Ditambah lagi, tuntutan masyarakat atas rasa keadilan yang selama ini tidak dirasakan, terutama bagi masyarkat setempat, Papua, oleh PT Freeport.
Menanggapi itu, Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dibangunnya pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Darwin, Australia.
"Pangkalan memang ada penempatan militer AS di Darwin. Obama pastikan tidak perlu khawatir. Kehadiran itu tidak ditujukan untuk kawasan Asia Tenggara. Dan tidak berhubungan dengan dimensi politik meningkat di Papua," kata Julian di Gedung Binagraha, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (21/11/2011).
Ia menambahkan bahwa tujuan dibangunnya pangkalan militer tersebut adalah upaya kerja sama penanganan bencana. Seperti contohnya, banjir besar di Thailand.
"Maka, perlu diperkuat satuan tugas untuk penanganan bencana. Kalau berjalan lancar, pada 2012 akan ada suatu upaya melibatkan pasukan asing dalam membantu satgas penanganan bencana," tukasnya.
Pangkalan militer dinilai dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan. Selain itu, diduga pangkalan itu ada kepentingan Amerika Serikat atas basis sumberdaya mereka di Freeport yang digoyang dengan tuntutan masyarakat atas rasa keadilan yang selama ini tidak dirasakan, terutama bagi masyarkat setempat, Papua.
(Amril Amarullah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.