JAKARTA - Pemilihan Umum baru berlangsung dua tahun mendatang, namun partai politik sudah mulai mempersiapkan calon yang akan diusung sejak saat ini.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo disebut-sebut akan mendampingi Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) dalam pilpres mendatang.
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai ada kelemahan dan kelebihan jika Partai Golkar melirik Pramono Edhie sebagai calon wakil presiden.
Berikut hasil wawancara okezone dengan Siti Zuhro pada Rabu (23/11/2011).
Apa yang membuat Partai Golkar melirik Pramono Edhie?
Satu sisi dia backroundnya tentara, satu sisi dia juga keluarga Ibu Ani Yudhoyono. Ini hal positif dapat menambah amunisi Ical. selain itu, politik Indonesia masih melibatkan kekuatan militer. Sejarahnya politik Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan militer. Dua priode terakhir masih juga dipimpin militer.
Kenapa militer masih kuat di mata rakyat?
sejarah tidak bisa langsung dipotong. Politik Indonesia menunjukkan ada keterkaitan sejarah dengan kesinambungan kekinian. Model politik kita tidak mudah lupa dengan itu, khususnya peran militer. Peran Pak Sudirman, Nasution, dan Pak Harto contohnya. Entah berperan langsung di depan atau dari belakang, sosok tentara masih diperlukan.
Apa kelebihan dan kekurangan calon militer?
Militer memiliki sistem komando, kedisiplinan, dan ketegasan dalam bertindak. Juga memberi nuansa wibawa dan disegani. zaman Orde Baru tentara sangat ditakuti, tegas, dan berwibawa. secara sosok, berbeda dengan politikus sipil yang gaduh dan cengengesan. Kalau Pak Pramono muncul, tentunya dia akan memberikan tambahan amunisi karena dia ipar Ibu Ani. Tapi Pramono ini tidak cukup populer. Namanya saja orang masih sulit untuk mengejanya. Mungkin di kalangan tertentu dia terkenal, tapi di kalangan bawah mungkin lebih terkenal Ayu Ting Ting dan Olga.
Apakah Ical memanfaatkan hubungan Pramono Edhie dengan Ani Yudhoyono?
Pramono tidak sekadar tentara, dia juga ada warna keluarga istana. Dari situ dia (Ical) bisa menghitung suara karena Istana punya basis masa Demokrat artinya sekali dayung dua pulau bisa terlampaui. Tapi kelemahannya Pram tidak punya basis massa. Ical akan tersangkut kasus Lapindo dan pajak. Ini pasti menjadi catatan yang akan kembali diangkat. (tri)
(ahm)