MEDAN - Kepergian Bripda Ridwan Napitupulu menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Apalagi, bungsu dari enam bersaudara itu dikenal sebagai sosok yang ramah dan sayang terhadap keluarga.
M. Napitupulu, paman korban, mengatakan keponakannya sejak kecil sudah bercita-cita menjadi polisi. Meski sempat gagal di Medan, alumni SMA Negeri 8 Medan itu kemudian mencoba masuk menjadi anggota polisi di Papua.
“Sudah lima tahun dia di sana. Sebelumnya sempat gagal waktu mencoba di Medan. Tapi waktu di Papua dia lulus. Itu memang cita-citanya jadi polisi,” ujar Napitupulu di Medan, Senin (5/12/2011).
Dia menerangkan, setahun lalu almarhum sempat mengutarakan keinginannya melanjutkan studinya. “Jumpa terakhir dengan almarhum tahun lalu. Dia bilang ke saya, dia mau ngelanjut kuliah," kenangnya.
Bripda Ridwan, anggota Sat Intelkrim Polres Jayapura, meninggal dunia setelah paha kanannya dipanah oleh sekelompok orang tidak dikenal pada perayaan HUT OPM, 1 Desember lalu.
Bripda Ridwan dipanah dan dianiaya sekira 15 orang saat mengecek laporan warga soal pengibaran bendera Bintang Fajar di Kampung Berap, Distrik Nimbrokang, Kabupaten Jayapura. Nahas korban yang saat itu bersama Kanit Intelkam Polsek Nombrokang, Bripka Dian Budi Santoso, dianiaya. Bripka Dian selamat, namun Bripda Ridwan tertangkap massa.
Jenazah langsung dibawa ke kampung halamannya di Desa Napitupulu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir, setibanya di Bandara Polonia Medan.
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.