tragedi sukhoi

Nachrowi Ramli, Mimpi Anak Gang Masjid Menata Jakarta

TB Ardi Januar-Stefanus Yugo Hindarto - Okezone
Rabu, 14 Desember 2011 10:50 wib
ist
ist

7 Juli 1965, Nachrowi Ramli masih belum bisa menerima kenyataan pahit. Ayahnya Haji Ramli bin Miun pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Ketika itu usia Nachrowi baru akan beranjak 14 tahun. Nara, panggilan akrab Nachrowi Ramli pun seketika langsung berupaya untuk membantu perekonomian keluarga sepeninggal Ayahnya. Maklum saja, usaha percetakan yang dirintis Ayahnya, perlahan mulai redup dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pria kelahiran Gang Masjid Jalan Kramat Sentiong, 12 Juli 1951 itu pun mengisahkan, ia harus menjadi penyalur barang kebutuhan pokok untuk membantu ekonomi keluarga.

"Saya setiap minggu biasanya membeli telur, 10 sampai 15 peti. Satu peti isinya bisa 200-an. Ambilnya dari pedagang di Senen. Telur itu saya jual lagi, makanya saya ngerti kualitas telur, ketika itu saya sudah jago ngeker Telur," kata Nachrowi saat berbincang dengan okezone di rumah pribadinya di bilangan Batu Ampar, Condet Jakarta Timur, baru-baru ini.

Kini, di tahun 2011, kehidupan Bang Nara telah berubah. Kerja keras dan keringatnya, membawa namanya memasuki percaturan politik di Ibu Kota. Nachrowi Ramli berani maju meraih mimpinya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Bang Nara yang juga ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta akan bertarung di Pemilukada DKI Jakarta tahun 2012 mendatang. "Saatnya menata Jakarta, penuh Ketegasan dan Keberanian," kata Bang Nara.

Bukan tanpa Alasan, bang Nara berani maju di pemilukada mendatang. Pengalamannya malang melintang di dunia militer, menjadi modal utamanya untuk menduduki posisi kursi DKI 1.

Nachrowi memulai karirnya di Angkatan Darat saat dirinya lolos seleksi Akabri Magelang tahun 1969. Bang Nara berhasil diwisuda pada tahun 1973 bersama rekan taruna seangkatannya. Salah satunya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selepas lulus Akabri, Nara mengikuti kursus perwira Sandi Negara di Sekolah Intelejen Strategis tahun 1978. Di masa inilah, Nara mulai menancapkan karirnya di dunia perwira sandi. "Sebuah dunia yang punya aturan main sendiri, yakni harus Berani tidak dikenal," katanya.

Di tahun 1984, Nachrowi terpilih mengikuti persiapan penugasan luar negeri. Dia ditarik ke Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia dan selanjutnya diperbantukan ke Departemen Luar Negeri. Di sinilah suami Alfina Evi Maria itu mulai belajar politik luar negeri. "Dari yang tadinya hanya tahu seputar TNI, saya jadi paham situasi global, saya mempelajari bagaimana tata cara pergaulan di dunia internasional," ungkapnya.

Karir Nachrowi kian menanjak. Dua tahun setelah itu, tepatnya 1986, Nachrowi ditempatkan sebagai atase administrasi di kedutaan besar Republik Indonesia di Kairo Mesir. KBRI di Mesir ketika itu, adalah jangkar untuk sejumlah kedutaan besar RI di afrika, seperti Sudan, Somalia, dan Jibouti.

Lima tahun berkelana di Mesir, Nachrowi pulang ke tanah air dan meniti karir sebagai pejabat eselon III di Lembaga Sandi Negara. Puncak karir Nara, di Lembaga tersebut diraih pada tahun 2002 ketika ia dipercaya menjadi Kepala Lemsaneg menggantikan Laksmana Muda TNI B.O Hutagalung.

Di masa kepemimpinannya, Nara melakukan terobosan, salah satunya dengan menyusun Sistem Persandian Nasional (Sisdina). "Saya harus meyakinkan sejumlah menteri, pejabat negara dan pejabat BUMN mengenai pentingnya informasi terkait kebijakan-kebijakan pemerintah," katanya.

Kerahasian menjadi sangat penting, kata Nachrowi, sebab berkaca dari pengalamannya, banyak ruang kerja menteri, duta besar yang tidak steril alias disusupi alat penyadap. "Rapat penting membahas berbagai kebijakan strategis banyak yang bocor, baik karena disadap maupun karena belum ada kesepakatan tentang persepsi rahasia negara dan bagaimana mengamankannya," katanya.

Segudang pengalamannya, memimpin Lemsaneg inilah yang menjadi modal utama untuk memperbaiki jakarta. "Saya memiliki prinsip manajemen yang diambil dari filosofi jawa, Ambeg Paramarta, yakni mendahulukan apa yang paling penting," ujar ketua badan musyawarah masyarakat betawi (Bamus Betawi) itu.

Dikatakannya, untuk menentukan mana yang paling penting dan perlu didahulukan diperlukan informasi. "Ini kuncinya, informasi. Seribu solusi bisa diajukan tapi kalau tidak dilengkapi dengan informasi yang komprehensif, keputusan yang diambil pemimpin mejadi tidak tepat," katanya.

Demikian halnya dengan menata ibu kota Jakarta. Menurut Nara, semua permasalahn akan dikaji dan dianalisa dengan pisau analisa yang tajam. Sehingga kebijakan yang diambil sudah melalui pertimbangan. Yang matang.

"Situasi ibu kota yang tidak tertata saat ini adalah tidak adanya ketegasan dalam menegakan aturan dan karena tidak hadirnya pemimpin yang serius, tegas dan bernyali untuk menyelesaikan persoalan," pungkasnya.

Berangkat dari permasalahan itu, Bang Nara, anak gang masjid itupun memberanikan diri maju di pemilukada demi cita-citanya menata wajah Jakarta.

(teb)