KPK: Wa Ode Bukan Pengungkap Kasus

Rabu, 14 Desember 2011 08:00 wib | Susi Fatimah - Okezone

Foto: dok okezone Foto: dok okezone JAKARTA - Ditetapkannya politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Wa Ode Nurhayati sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pembahasan dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah (PPID) sempat menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Hal itu lantaran Wa Ode tidak pernah dipanggil KPK untuk diperiksa.
 
Menanggapi hal tersebut, Penasihat KPK Abdullah Hehamahua mengatakan ditetapkannya Wa Ode menjadi tersangka sudah sesuai prosedur hukum. Di KPK, lanjut Abdullah, ada tim Satuan Tugas yang sudah menemukan bukti dugaan keterlibatan Wa ode dalam kasus suap PPID tersebut.
 
“Di KPK itu ada Satgas sekitar 13, satu Satgas minimal tiga orang tergantung kasus yang ditangani. Masing-masing Satgas berjalan sesuai temuan. Satgas kasus Wa Ode lebih dulu mendapat temuan bukti dibandingkan pimpinan Badan Anggaran sebelumnya (yang sudah diperiksa lebih dulu),” ujar Abdullah saat berkunjung ke kantor redaksi okezone Jalan Kebon Sirih Raya, Jakarta, Selasa (13122011) malam.
 
Abdullah membantah ditetapkannya Wa Ode lebih dulu dibandingkan pimpinan Banggar lainnya karena KPK melakukan tebang pilih.
 
“KPK bukan tebang pilih tapi tebang matang. Siapa yang matang lebih dulu dia yang sudah ada alat bukti. Kapan itu matang tergantung alat bukti. Dia (Satgas) dapat lebih dulu alat bukti dari pimpinan Banggar,” kata Abdullah.
 
Wa Ode juga tak setuju dengan anggapan banyak pihak bahwa Wa Ode merupakan pengungkap praktik calo anggaran di DPR (whistle blower). Pasalnya, Wa Ode tidal pernah melaporkan kasus tersebut ke KPK dan hanya menyampaikan di media massa.
 
“Sebagai whistle blower orang yang melaporkan ke penegak hukum, Wa Ode kan tidak melapor ke KPK, kalau melapor baru whistle blower. Dia kan tidak. Kalau dia melapor dan dia terlibat juga dapat keringanan hukumanya seperti Agus Condro,” tutupnya.
 
Sebelumnya, Wa Ode sendiri membantah telah menerima uang terkait pembahasan PPID tahun 2011. Namun dirinya mengakui pernah dicoba disuap oleh Haris Surahman. Haris yang juga dicegah imigrasi ke luar negeri, kata Wa Ode memiliki kepentingan terkait anggaran PPID.
 
"Dia (Haris) terindikasi calo karena pernah mencoba menghubungi saya. Mengajak main anggaran, tapi saya sampaikan kalau mau silahkan prosedural, karena saya tidak mau main seperti itu," lanjutnya.
 
Haris juga pernah menelpon staf Wa Ode, Sefa Yulanda pada pertengahan November 2010. Dalam percakapan telepon, Haris mengatakan akan menitipkan uang untuk Wa Ode. "Saya bilang jangan, karena niatnya saya tahu. Saya tidak tahu nominal uang yang akan diberikan Haris. Setelah peristiwa itu, tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Haris," ujar Wa Ode. (sus) 
(ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »