SURABAYA- Sepanjang tahun 2011 nasib buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri masih kelam. Penderitaan para pahlawan devisa ini rupanya kian tak berujung.
Suprapti, Divisi Advokasi Migrant Institute, mengatakan pemerintah masih kurang memperhatikan nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
Berdalih menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, justru negara malah sibuk mencari peluang guna 'mengekspor' tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Pemerintah malah mematok target devisa.
"Tapi Perbaikan perlindungan yang dijanjikan pemerintah nyatanya masih sebatas wacana belaka," kata Suprapti kepada Okezone, Kamis (5/1/2011).
Intitusinya mencatat beragam kisah pilu para TKI pada tahun 2011. Seperti di awal tahun 2011, sudah dikejutkan Darsem, TKW asal Subang, Jawa Barat yang mendapatkan vonis hukuman mati karena di tuduh membunuh majikannya yang warga negara Yaman.
Setelah melakukan negosiasiasi, akhirnya hukuman mati untuk Darsem dibatalkan namun dia diharuskan membayar diyat (denda) sebesar Rp4,6 miliar. Jumlah yang tentunya sangat banyak bagi seorang BMI.
Kemudian dalam pidato di Konfrensi ILO yang ke- 100, Presiden SBY mendapatkan apresiasi setelah menyampaikan pidatonya yang bertajuk "Forging A New Globl Employment Framework for Social Justice and Equality".
Belum segenap sepekan pidato ini disampaikan, publik dikejutkan dengan dipancungnya Ruyati binti Satubi, TKW asal Bekasi yang bekerja di Arab Saudi pada tanggal 18 Juni 2011 lalu.
Ruyati dituduh membunuh majikannya. Publik marah, perlindungan yang disampaikan oleh pemerintah nyatanya hanya pepesan kosong belaka.
Dipancungnya Ruyati jelas merupakan bukti nyata kelalaian dan absennya pemerintah dalam melindungi warga negaranya. Reaksi atas pemancungan Ruyati sangat dahsyat, berbagai elemen yang peduli akan nasib buruh migran menggelar aksi, Berbagai media massapun memberitakannya selama berhari-hari.
"Imbas dari dipancungnya Ruyati itu pemerintah membentuk Satgas TKI yang bertugas membebaskan Buruh Migran yang terancam hukuman mati di sejumlah negara," kata mantan TKW yang pernah bekerja di Hongkong itu.
Satgas yang pembentukannya konon menghabiskan anggaran 100 milyar ini ternyata juga tak punya gigi. Beberapa Buruh Migran yang sudah mendapatkan vonis tetap hukuman mati sampai saat ini belum juga bisa dibebaskan.
Saat ini ada dua Buruh Migran Indonesia yang nasibnya sudah diujung tanduk. Yang pertama, Tuti Tursilawati asal Majalengka dan Satinah asal Semarang.
"Satgas TKI konon sudah melakukan lobi-lobi ke pemerintah Kerajaan Arab Saudi, namun belum ada titik terang pembebasan mereka. Upaya yang terakhir, pemerintah mengirimkan mantan presiden BJ Habibie yang mempunyai hubungan dekat dengan kerabat kerajaan untuk melakukan upaya pembebasan Tuti Tursilawati," tulisnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.