BEIJING – Menanggapi ancaman bunuh diri massal oleh 300 pekerja di pabrik Foxconn, di Wuhan, China terkait perseteruan gaji dan Microsoft dikabarkan sedang menyelidiki masalah tersebut. Langkah ini dilakukan oleh Microsft, mengingat Foxconn merupakan pabrik yang memproduksi Xbox perusahaannya.
Dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Next Web, Jumat, (13/1/2012), Microsoft mengatakan, “Microsoft membutuhkan kondisi kerja di pabrik yang memproduksi produk dengan sangat serius, dan kami sedang menyelidiki masalah ini. Kami memiliki etika kode vendor yang merinci harapan kami dan juga memantau kondisi kerjasama secara berkelanjutan serta isu-isu yang muncul.”
“Microsoft berkomitmen untuk memperlakukan dengan adil dan juga keselamatan pekerja yang dipekerjakan oleh pemasok kami, untuk mematikan kesesuaian dengan kebijakan yang dimiliki oleh Microsoft.,” lanjut pernyataan tersebut.
Dilaporkan PC Mag, ancaman bunuh diri massal ini bermula dari sebuah insiden pada 2 Januari lalu. Pekerja meminta kenaikan gaji, yang kemudian harus memilih berhenti dengan kompensasi atau tetap mempertahankan pekerjaanya tanpa menerima kenaikan gaji. Kemudian, sebagian besar memutuskan untuk berhenti dengan kompensasi, tapi perusahaan justru mengakhiri kesepakatan tersebut dan pekerja tidak mendapatkan bayaran.
Sementara itu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini, sepertinya belum bisa dipastikan. Tapi mengingat popularitas konsol Xbox 360, Microsoft bisa kehilangan puluhan juta pendapatannya jika karyawan melakukan aksi mogok.
Meskipun begitu, tentu saja ancaman bunuh diri jauh lebih serius daripada terhentinya pekerjaan. Mengingat masa lalu Foxconn, dengan masalah bunuh diri maka situasi ini sepertinya akan menjadi kompleks dan serius.
Foxcon merupakan salah satu manufaktur elektronik terkenal di dunia, yang juga membuat produk untuk perusahaan seperti Dell, Hewlett Packard (HP) dan Sony.
(tyo)