BANDA ACEH - Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Provinsi Aceh meminta Pemprov Aceh untuk membuat peraturan yang ketat terhadap pembangunan setiap fasilitas publik agar tahan gempa.
Hal ini mengingat Aceh berada di daerah yang rawan gempa.
“Pemerintah agar dapat membuat peraturan yang ketat dengan persyaratan teknis bangunan tahan gempa terhadap pembangunan gedung perkantoran, fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah dan sebagainya,” kata Ketua IAGI Aceh, Faizal Adriansyah dalam pers rilis dikirim ke okezone di Banda Aceh, Kamis (12/1/2012).
Aceh memang berada pada jalur tektonik atau wilayah cincin api yaitu pada pertemuan lempeng Indo dan Asutralia sehingga sangat rawan diguncang gempa bahkan tsunami. Rabu (11/1) dinihari kemarin, Aceh kembali dilanda gempa berkekuatan 7,1 Skala Richter dengan kedalaman 10 kilometer (Km) berpusat di 338 Km arah Barat Daya Meulaboh.
Meski sempat dikeluarkan peringatan akan terjadinya tsunami, namun beruntung gelombang laut yang mematikan itu tak muncul.
Faizal mengingatkan masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan sesuai dengan mekanisme Pengurangan Resiko Bencana (PRB) bila terjadi gempa.
“Antara lain bila berada di dalam rumah, gedung atau bangunan jangan panik, segera keluar menuju areal terbuka,” ujar dia.
Untuk masyarakat disekitar pesisir pantai apabila gempa dirasakan sangat kuat, segera menjauhi lokasi pantai menuju daerah yang jauh dari pantai atau daerah yang tinggi, sambil menunggu informasi instansi berwenang apakah berpotensi tsunami atau tidak melalui media.
“Kepada masyarakat yang ingin membuat bangunan rumah tempat tinggal, pertokoaan agar memperhatikan betul persyaratan bangunan untuk daerah gempa,” imbau Faizal.
Dia meminta Pemerintah agar dapat memfungsikan pengelolaan escape building dan escape hill (gedung penyelamatan tsunami), sehingga bisa menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berlindung apabila tsunami datang.
Saat gempa yang berpotensi tsunami dinihari kemarin, gedung penyelamat tsunami yang ada di Banda Aceh sama sekali tak dihiraukan warga. Pantauan okezone beberapa saat setelah gempa, gedung diantaranya terletak di kawasan Lambung, Ulee Lheu dan Deah Glumpang tersebut kosong, sementara warga yang tinggal di sekitarnya dan dekat pantai memilih menghindar ke tempat lain.
Padahal sudah berulangkali dilakukan simulasi tsunami bahwa warga harus berlindung ke gedung tersebut kalau ada peringatan tsunami. Ironinya lagi saat gempa dinihari kemarin, tak ada unsur Pemerintah atau pihak terkait yang turun membantu mencegah kepanikan warga.
Menurut Faizal, Pemerintah melalui instansi teknis yang berwenang harus segera memberikan informasi akurat kepada masyarakat, apabila terjadi gempa yang berpotensi tsunami, agar tidak terjadi kepanikan yang tidak menentu ditengah-tengah masyarakat.
Pemerintah diminta serius memperhatikan masalah ini karena kita hidup di jalur gempa aktif baik pusat gempa dilaut maupun di darat.
“Hingga saat ini belum ada ilmu manusia yang mampu mengetahui waktu kedatangan gempa, berapa besar kekuatan gempa dan lokasi mana terjadinya gempa. Semua pertanyaan itu baru terjawab setelah gempa terjadi. Yang dapat kita lakukan bila terjadi gempa dan tsunami adalah mengurangi resiko yang ditimbulkannya,” tukas Faizal.
(Carolina Christina)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.