tragedi sukhoi

Dipulangkan Paksa, Warga Syiah Minta Jaminan Keamanan

Jum'at, 13 Januari 2012 08:31 wib
Warga Syiah pulang dari Tennis Indoor Sampang (Dok: Sindo TV/TaufiK S)
Warga Syiah pulang dari Tennis Indoor Sampang (Dok: Sindo TV/TaufiK S)

SAMPANG - Ratusan warga Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, yang mengungsi selama dua pekan lebih di lapangan Tennis Indoor Sampang, akhirnya pulang ke rumah mereka dengan terpaksa.
 
Sekira 250 pengungsi asal Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, mengungsi setelah kompleks pondok pesantren milik warga Syiah dibakar pada akhir Desember 2011 lalu.

Para pengungsi mengaku terpaksa meninggalkan Lapangan Tennis Indoor Kota Sampang karena diminta pergi oleh pihak pemkab. Lapangan tenis tertutup itu selama dua pekan lebih menjadi tempat berlindung para warga Syiah.

Mereka masih mengkhawatirkan kondisi keamanan di Desa Karang Gayam, meski kepolisian sudah memberikan jaminan keamanan.

Apalagi, dua terduga provokator pembakaran yang dinyatakan buron oleh polisi hingga kini belum ditangkap. Polisi baru menangkap satu di antara tiga warga yang dianggap sebagai pelaku pembakaran tersebut.

Sejumlah pengungsi sempa menangis, namun mereka pasrah pada keadaan karena tidak ada pilihan lain.

“Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain.” ujar Tajul Muluk, tokoh Syiah di Sampang, Jumat (13/1/2012).

Tajul berharap pemerintah kabupaten benar-benar menetapi janji untuk memastikan keamanan mereka. “Sebetulnya mereka (pemerintah) sudah tahu apa hak-hak kami sebagai rakyat. Masa kami harus merengek-rengek minta perlindungan keamanan lagi,” ucapnya.

Kepulangan para pengungsi ini pun mendapat pengawalan ketat dari sejumlah personil TNI-Polri yang telah disiagakan sebelumnya.

(Taufik Syahrawi/Sindo TV/ton)

  • Arsyad » 0 Tanggapan
    Saya sangat prihatin dengan kondisi di sampang saat ini. Seorang warga negara Indonesia hidup dibawah tekanan yg luar biasa. Banyak pertanyaan muncul mengelitik batin saya. Kenapa Harus terjadi kekerasan kalo hanya beda aliran. Kenapa harus dibiarkan kpd org yg nyata-nyata membuat rusuh dan tindak kekerasan?. Kenapa para ulama terus membiarkan dan tidak memberi pemahaman yg menyejukkan sehingga kejadian ini tidak akan terulang?. Mereka yg beda kalo ditanya Siapa Tuhanmu? Jawabnya a***h Apa agamamu? Jawabnya i***m Apa kitab sucimu? jawabnya a*******n Yg prinsip jawabnya sama bung. Yg beda itu cumaa hal hal kecil saja. Maslah yg muncul jika para tokoh memberi stikma yg ekstrim seperti sesat. Ini yang akan menjadi mala petaka bahkan sebuah provokasi yg bisa memunculkan tindak kekerasan terhadap siapa saja yg dianggab beda. Tolong para tokoh beri steman yg sejuklah bantu pemerintah redakan suasana.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.