Judul : Sukarno Paradoks Revolusi Indonesia
Penyunting : Arif Zulkifli, Bagdja Hidayat, Dwidjo U Maksum
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, 2010
Tebal : 124 halaman
“Berikan aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia”. Siapa yang tak mengenal pekikan itu? Semua orang tentunya sangat akrab dengan gemuruh orasi tersebut. Siapa lagi kalau bukan orasi sang ikon revolusi nasional Indonesia yang paling menonjol, Bung Karno.
Nama Bung Karno menyejarah dan seakan tak pernah luntur dari ingatan zaman. Tak pernah benar-benar lumah terkubur. Jasanya mengabadi dan semangatnya mampu menyentuh relung hati para pemuda-pemudi Indonesia.
Upaya desoekarnoisasi yang digencarkan oleh pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto untuk menghanyutkan peran Bung karno dalam sejarah dan dari ingatan bangsa Indonesia. Pelbagai upaya desoekarnoisasi dilakukan, misalnya mengganti nama Sukarno yang diberikan pada berbagai tempat atau bangunan di Indonesia. Selain itu, pada saat Bung Karno meninggal, keinginannya untuk dikebumikan di Istana Batu Tulis, Bogor tidak dipenuhi oleh pemerintah Soeharto. Tragisnya, juga terdapat manuver memperkecil peranan Bung Karno dalam mencetuskan Pancasila serta tanggal kelahiran pemikiran yang kemudian dijadikan ideologi nasional pada 1 Juni 1945.
Namun semua itu, justru hanya memperkuat kenangan orang terhadap kebesaran Bung Karno. Nah, buku yang lahir dari praktek jurnalisme investigasi dari tim redaksi Tempo ini, berupaya menyusuri pelbagai simpati pada epilog hidup Bung Karno yang tragis, mereportase ulang kehidupan suka-duka, lengkap dengan pergolakan politik, pradigma berpikir dan petualangan hingga kisah cinta sang Bapak revolusi ini.
Bukan hanya dikenal sebagai bapak revolusi Indonesia, Bung Karno begitu tersohor di pelbagai belahan dunia. Dari lembah Sungai Nil hingga Semenanjung Balkan, dari Aljazair hingga India, namanya populer sebagai salah satu juru bicara Asia-Afrika paling lantang dalam melawan imperialisme dan kolonialisme Barat. Sebagai orator yang lincah dalam dunia perpolitikan, ia mampu membuktikan pada khalayak sebagai sosok pengguncang dunia.
Aktivisme politik Bung Karno diilhami dari buku bacaan dan tokoh senior yang dijumpai. Keberanian dan semangat jua yang dimiliki mampu menorehkan banyak jasa, khususnya bagi Indonesia. Gaya yang ditampilkan menjadikan sosok kelahiran Blitar ini, membawanya menemukan personifikasi jati diri “satu Indonesia”. Bung Karno menjadi pusat perhatian. Tak ada yang tak terpesona dengan kelincahan dan gaya khas berpolitik.
Sosok Bung Karno memang diprediksi kuat untuk menjadi pemimpin bangsa. Buku ini berhasil menceritakan detik-detik lahirnya Bung Karno dari sosok ibu Ida Ayu Nyoman Rai. Fajar baru menyingsing ketika disebuah rumah di pasar besar, lahir seorang anak dengan wajah menatap kuat dan tampak aura pemimpin. Sang ayah, Raden Soekemi Sasrodihardjo memberi nama Kusno Susro. Ibu Bung Karno mempunyai firasat baik sambil lalu mendekap Bung Karno seraya berucap : “Engkau akan menjadi pemimpin rakyat kita, karena ibu melahirkan jam setengah enam pagi disaat fajar mulai menyingsing. Jangan lupakan itu nak, bahwa engkau ini Putra Sang Fajar. (halaman 46).
Dalam autobiografi yang dituturkan Bung Karno kepada Cindy Adams, ia menceritakan asal muasal namanya. Bung Karno terlahir sebagai Kusno, yang sakit-sakitan. Sesuai dengan kepercayaan orang Jawa, ayahnya harus mengganti nama baru untuk mengusir penyakitnya. Maka, Kusno menjadi Karno, saudara seibu pandawa, sosok pejuang bagi negaranya dan patriot yang saleh. Tak ayal, Bung Karno tumbuh menjadi pahlawan patriot kebangsaan.
Kehidupan Bung Karno hingga hal-hal yang menginspirasi hidupnya, terlihat detail dalam buku ini. Bung Karno sejak lama terpesona oleh elemen drama dalam sejarah dan unsur romantis dalam biografi George Washington, Garibaldi dan Abraham Lincoln. Tak hanya itu, Bung Karno banyak berlayar dalam dunia romantisme cerita-cerita perwayangan Mahabharata dan Ramayana, yang menjadi inspirasi kuat dalam medium komunikasi dengan khalayak.
Penting untuk disimak bahwa buku ini bukanlah biografi yang biasanya identik dengan ketokohan dan perjuangan hidup. Lebih dari itu, buku ini merupkan mozaik rentetan dari rekaman sejarah yang menyusuri pelbagai sisi perjuangan politik pemimpin Indonesia kali pertama.
Bagi saya, substansi yang diuraikan dalam buku ini patut menjadi contoh klasik pemimpin berwibawa. Seorang pemimpin idealistis yang dirusak oleh kekuasaan dan dikihianati oleh kebanggan dirinya yang terlalu besar. Bung Karno oleh sejarawan SI Poeradisatra dilukiskan sebagai paradoks pemimpin yang sesekali bisa tampak seperkasa Herakles tapi juga serapuh Hamlet yang tercabik-cabik dalam kebimbangan. Bung Karno dikutuk laiknya bandit dan dipuja layaknya dewa.
Hal ini berbanding arah dengan pemimpin masa kini, yang hanya mencari gelar wibawa dengan politik pencitraan. Ketika ada kritik, pemimpin kita misuh cengingisan. Lalu, mengapa buku ini menjadi penting? Karena buku ini tengah mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin kuat yang benar-benar simpati ketika dicinta dan tangguh ketika dicela.
Wildani Hefni
Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang
(//mbs)