Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Trauma, ABK Costa Tak Diizinkan Berlayar

Rohmat , Jurnalis-Sabtu, 21 Januari 2012 |06:15 WIB
Trauma,  ABK Costa Tak Diizinkan Berlayar
Costa Concordia yang karam (Foto: AP)
A
A
A

DENPASAR- Lantaran trauma dengan peristiwa karamnya kapal pesiar Costa Concordia 13 Januari, ada anak buah kapal (ABK) yang tidak diizinkan keluarganya untuk berlayar kembali.

Peristiwa nahas kapal Costa pada 13 Januari 2012 menyimpan trauma tidak hanya bagi penumpang dan ABK, namun juga dialami keluarganya.

Melihat kondisi kapal yang karam seperti tayangan TV, membuat keluarga ABK asal Bali miris dan khawatir dengan keselamatan mereka yang bekerja di kapal pesiar mewah tersebut.

"Saya suka menangis kalau melihat kapal yang karam tersebut. Syukurlah suami saya selamat," ujar Ayu Astani, istri seorang ABK bernama Putu Widiana, di bandara Ngurah Rai, Jumat (20/1/2012).

Ayu bahkan mengaku trauma dan khawatir dengan keselamatan suaminya. Karena itu, dia menegaskan tidak akan mengizinkan suaminya bekerja kembali di kapal pesiar.

Sebelum kejadian, Ayu sempat kontak dengan suaminya dan saat itu kondisinya baik-baik saja. "Saya tau kabar kejadian tersebut dari TV dan facebook, setelah kejadian suami menghubungi saya menyatakan dalam keadaan selamat," katanya sembari mengajak anaknya yang masih balita.

Meski trauma berat masih nampak di wajah para ABK maupun keluarga, tak sedikit pula yang tetap mendukung  ABK untuk bekerja di kapal Costa.

"Saya tidak melarang semua bergantung dia. Saya mendukung keputusanya apakah akan bekerja kembali di kapal atau sebaliknya," kata I  Wayan Sukarta (44), ayah ABK Costa bernama I Putu Tirtana (35).

Apalagi, Tirtana memang punya tekat kuat bekerja di kapal pesiar sehingga dia pun hanya bisa mendukung keputusan terbaik bagi anaknya.
 
Belum lagi jika mengingat keberangkatannya ke kapal pesiar membutuhkan biaya besar sampai Rp30 Juta. Sementara anak keduanya itu baru empat bulan berlayar dengan kapal Costa, sehingga masih terikat kontrak kerja.

Rasa trauma memang dialami semua ABK seperti disampaikan I Wayan Srinadi asal Kabupaten Bangli.  Namun baginya, kejadian seperti itu bagian dari risiko tugasnya sebagai waiter di kapal pesiar.

"Saya mau menenangkan diri istirahat dahulu, setelah tidak trauma lagi, saya siap berangkat menunggu panggilan perusahaan," ujarnya sembari bergegas pulang.

(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement