tragedi sukhoi

Polri Dilarang 'Dekat-Dekat' dengan TNI

Susi Fatimah - Okezone
Minggu, 22 Januari 2012 07:40 wib
Ilustrasi (Foto: Reuters)
Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan usulan advokat senior Todung Mulya Lubis terkait Kepala Kepolisian RI (Kapolri) harus berasal dari kalangan sipi,l dinilai kurang tepat. Pasalnya jabatan Kapolri merupakan jabatan teknis sehingga harus dipegang oleh orang yang paham terkait situasi keamanan.

“Polisi jabatan teknis tetap dari polisi. Kalau dipimpin sipil nanti jadi oragnisasi politik seperti menteri sipil tapi kalau organisasi kepolisian tidak bisa seperti itu. Kapolri itu teknis ke masalah hukum berkaitan keamanan dan ketertiban dan itu dipelajari sejak pendidikan sampai puncak pimpinan. Kalau dari sipil nanti tidak menguasai. Sebaiknya dari polisi saja,” tutur Bambang kepada okezone, Sabtu (21/1/2012).

Menurut Bambang, yang perlu diubah bukanlah jabatan Kapolrinya melainkan bentuk oragnisasinya itu sendiri. Kepolisian saat ini dinilai lebih mengedepankan militeristik ketimbang sebagai organisasi sipil. “Memang polisi sipil aslinya, hanya saja polisi belum merubah dirinya, masih organisasi yang militer, manajemennya militer, pendidikannya militer, itu yang seharusnya diubah menjadi organisasi sipil, seperti bea cukai, kejakssaan dan imigrasi,” ujar Bambang.

Untuk menghindari sikap militeristik dari aparat kepolisian, sambung Bambang, seharusnya kepolisian tidak menggelar rapat-rapat dengan TNI seperti yang beberapa waktu lalu dilakukan. Seharusnya, kepolisian melakukan rapat dengan para penegak hukum seperti Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Polisi rapat dengan TNI menjadikan polisi semakin militer, harusnya kesana ke Kejaksaan aparat penegak hukum. Jangan ikut-ikut rapat dengan militer,” ucapnya.

Terkait usulan kepolisian di bawah naungan kementrian, Bambang mengaku setuju dengan gagasan tersebut. “Sebaiknya di bawah Kementrian, mengapa? karena di bawah presiden riskan. Karena kalau ada apa-apa ini tanggungjawab presiden. Salah dikit presiden di copot kan enggak pantas presiden diganti-ganti. Kalau di bawah menteri enggak apa-apa menteri digantikan wajar,” papar Bambang.

Saat ditanya kementrian apa yang pas untuk menanungi kepolisian, Bambang mengatakan asal bukan Kementrian Pertahanan. hal ini dikhawatirkan kepolisian akan semakin bersikap militeristik.

Seberlumnya, Todung Mulya Lubis menilai rentetan kasus kekerasan yang dilakukan oknum polisi kepada melanda warga sipil merupakan budaya politik militeristik yang masih dianut kepolisian. Untuk mendisiplinkan polisi itu merupakan pekerjaan reformasi jilid dua. Termasuk mengangkat Kapolri bukan dari pihak kepolisian, melainkan orang-orang sipil. (sus)

(lam)

  • arjuna. » 0 Tanggapan
    Kapolri dari sipil? baru dilantik seminggu langsung bubar, karena bisa-bisa lebih militeristik lagi macam Satgas-satgas Partai yang bukan main gagahnya, pake baju doreng, pake baret Merah macam Kopasus pula, dimana-mana di Negara manapun Polisi selalu di caci karena Polisi bukan sebagai alat Pemuas, apalagi 75 % warganya buta hukum dan pelanggar Hukum, pasti tidak akan senang dengan yang namanya Polisi.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Ki sentanu » 1 Tanggapan
    apa salahnya institusi negara saling bersinergi. TNI-Polri kalau kompak, rakyat juga senang karena negara akan aman dan damai
    • GABOUZ ALFONSO
      AH HHHH !!! KATA SIAPA ? SALAH BENAR POLISI ITU TETEP SALAH BAGI SIAPAPUN KALAU LIHAT POLISI terlepas salah apa benar pasti tetep dianggap salah, coba saja anda lihat ? banyak sekali di daerah aman mesti di utak atik supaya kisruh, apalagi saudara tuanya itu, gak sedikit POLRI telah diserbu olehnya, bagi POLRI terimalah nasibmu SEBAGAI "ANAK TIRI' BIAR BAGAIMANAPUN GAJIMU KALAH SAMA TNI DAN PEGAWAI LAINNYA, gajimu terendah nyadar nggak hai POLISIIIIIIIIIIII
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Buser » 0 Tanggapan
    Sipil sekarangpun kadang lagaknya melebihi yang asli militer...!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • arez » 0 Tanggapan
    kalo polisi dr sipil , misal si todung lubis pas dpt kasus yang rumit ntar bingung mau gimana malah terkencing2 ntar he he . Kalo dibawah menteri ntar hukum dipolitisasi . Alangkah lebih baik yang ada diperbaiki , ntar juga bagus . Kasus2 itu kan oknum , bukan semua polisi di indonesia spt itu . Sempit sekali si todung ini . Kalah sama anaku wkwkwk
    Beri Tanggapan Laporkan
  • wong bodho » 1 Tanggapan
    Sekarang saya tanya yang dimaksud militerisme itu apa?polisi jangan disamakan dengan instansi lain,tugas polisi itu lebih kompllek tidak cuma masalah nangkap pencuri tapi juga teroris dan sparatis.jadi kalo dinegeri ini terjadi perang polisi juga sebagai lini terdepan setelah TNI.
    • jonatan
      semua pada pinter omong doang, klo mo ngubah semuanya tatanan jadi lebih baik, ubah dulu perilaku politisi,klo semua perkara ndak dipolitisasi maka akan mudah dibenahi mas bro
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.