Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cuaca Ekstrim, Adpel Tanjung Emas Larang Kapal Berlayar

Nugroho Setyabudi , Jurnalis-Kamis, 26 Januari 2012 |18:38 WIB
Cuaca Ekstrim, Adpel Tanjung Emas Larang Kapal Berlayar
Ilustrasi kapal ferry (Foto: nauticexpo.com)
A
A
A

SEMARANG- Cuaca ekstrim membuat Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Emas Semarang mengeluarkan larangan berlayar untuk kapal-kapal dengan ukuran kecil.

Kapal yang dilarang di antaranya kapal layar motor, kapal pandu, kapal RORO dan tongkang. Semua kapal dengan jenis ini diminta untuk tidak berlayar hingga akhir Februari nanti.

Kabid Penjagaan dan Penyelamatan Adpel Tanjung Emas Semarang, Sahrul Nugroho, mengatakan sebetulnya para nahkoda kapal sudah mengerti akan kondisi seperti ini. Namun masih ada pemilik kapal yang nekat mengajukan permohonan izin.

Saat ini, lanjut Sahrul, kondisi di laut sangatlah buruk dengan gelombang bisa mencapai ketinggian 4 meter dan angin yang bertiup hingga 35 knot.

"Saya kira keadaan cuaca seperti ini sangat tidak mendukung segala aktivitas pelayaran, sangat berbahaya. Kapal penumpang jenis RORO sudah saya sarankan, bahkan saya minta untuk tidak berlayar," jelas Sahrul, Kamis (26/1/2012).

"Saat ini ada enam kapal peti kemas yang belum bisa sandar di pelabuhan karena kapal pandu atau thug boat tidak bisa keluar dari pelabuhan. Kapal-kapal peti kemas itu saat ini masih menunggu sekira 2 mil dari kawasan perairan pelabuhan untuk menunggu keadaan membaik dan kapal pandu bisa menjemput mereka. Bagaimanapun juga kapal besar seperti kapal peti kemas dan tanker harus masuk dengan bantuan pandu," sebutnya.

Bahkan karena kondisi seperti ini, kapasitas produksi pelabuhan Tanjung Emas hanya mencapai angka 30 persen. Karena banyak kapal yang tidak bisa masuk ke pelabuhan.

Sementara itu kapal layar motor (KLM) yang masuk dalam jenis kapal kecil masih terus menunggu izin berlayar dari pihak Adpel. Hariadi, nahkoda KLM Anugrah Maulana II, mengaku sudah hampir sepekan berada di pelabuhan tanpa dapat berlayar.

"Saya memang mendapat anjuran untuk tidak berlayar, ya kira-kira sudah 5 harian saya di sini. Kami seharusnya menuju ke Ketapang, Kalimantan, untuk mengangkut sembako ke sana. Kita lihat saja bagaimana kondisi cuaca, biasanya selepas Cap Go Meh cuaca kembali normal," ungkap Hariadi pria asal Ketapang ini.

(Kemas Irawan Nurrachman)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement