Penasaran, Ufi pun Tekuni Kebidanan

Ulfiyah Hikmah (Foto: Margaret P/okezone)

Penasaran, Ufi pun Tekuni Kebidanan
JAKARTA - Beragam latar belakang dan alasan membuat kita terjun dan menggeluti bidang tertentu. Baik karena tradisi turun-temurun atau sekadar rasa penasaran.

Rasa penasaran ini yang memanggil Ufiyah Hakimah untuk menekuni dunia kebidanan. Ufi, begitu dia biasa dipanggil, merasa tertantang untuk mengetahui proses persalinan.

"Waktu SMA saya penasaran, bagaimana bayi yang begitu besar bisa keluar melalui jalur yang sangat kecil? Maka, saya pun mendaftarkan diri untuk menempuh perkuliahan di kebidanan," kata Ufi selepas acara pemberian beasiswa program Akademi Andalan oleh DKT Indonesia di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (2/2/2012).

Setelah mempelajari dan mengalami langsung bagaimana membantu proses persalinan, mahasiswi program studi Kebidanan Sutomo Poltekes Kemenkes Surabaya ini mengaku merasa takjub.

"Waktu pertama kali membantu persalinan, saya sampai harus ditegur tiga kali oleh dokter saking terkesimanya. Apalagi saat itu, proses persalinannya menggunakan vacum sebagai alat bantu, karena bayinya terlalu besar untuk pinggul sang ibu," ujar dara berkerudung ini.

Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman mendebarkan berikutnya dialami Ufi ketika harus membantu persalinan seorang ibu yang menderita hepatitis B.

"Penyakit Hepatitis B itu mirip HIV/AIDS dan bisa menular lewat keringat. Saya sangat ketakutan apalagi saat itu para bidan senior tidak ada yang mau membantu. Saya hanya dibantu seorang petugas baru. Untungnya hingga saat ini saya tetap sehat dan tidak terjadi apa-apa pada saya," tutur mahasiswi semester lima ini menjelaskan.

Bungsu dari enam bersaudara ini mengatakan, perjalanannya mengikuti perkuliahan bidang kebidanan bukan tanpa hambatan. Di awal kuliah dia sempat merasa ragu untuk melanjutkan kuliah di bidang tersebut.

Ketika itu, seorang temannya menyebutkan, gaji seorang bidan hanya Rp500 ribu. Padahal biaya kuliah yang harus dikeluarkan jauh lebih banyak dari itu.

"Teman saya bahkan menyarankan saya bekerja sebagai SPG rokok, karena menjanjikan gaji yang lebih besar. Tapi dukungan ibu saya kembali menguatkan saya untuk tetap menekuni pendidikan di bidang kebidanan ini," ujar Ufi.

Sang ibu merupakan motivator utama Ufi. Pasalnya, sejak menjadi anak yatim saat masih kelas 2 SD, sang ibu mampu menyekolahkan keenam anaknya hingga perguruan tinggi.

"Ibu sangat mendukung pilihan saya untuk terjun di dunia kesehatan karena semua kakak saya menjadi guru. Kata ibu, jadi bidan itu pekerjaan mulia. Hukum alam itu berlaku. Upahnya di dunia memang tidak seberapa tapi di akhirat kamu akan mendapatkan bayaran yang melimpah. Itulah yang terus menguatkan saya," kata dara kelahiran Gresik, 27 November 1991 tersebut.

Terpilih sebagai The Best Presenter berdasarkan esai yang ditulisnya, Ufi mengaku tidak menyangka kemenangannya itu. Esai bertemakan Kenapa Aku Ingin Jadi Bidan merupakan salah satu penilaian DKT Indonesia dalam menentukan para penerima beasiswa program Akademi Andalan.

"Saya justru berpikir presentasi saya paling jelek, karena sangat singkat. Sementara teman-teman yang lain memaparkan begitu panjang bahkan membuat orang lain terharu," ujarnya.

Dia mengungkapkan, esai miliknya terbagi menjadi tiga bagian. Pertama latar belakang, penjabaran kemampuan diri, dan visi dirinya di masa mendatang.

"Sama seperti teman-teman yang lain, saya juga memaparkan latar belakang secara singkat. Kemudian dilanjutkan dengan kelebihan-kelebihan yang saya miliki terkait profesi bidan nantinya. Dan terakhir, saya merumuskan visi saya lima tahun ke depan, saya tidak lagi sekadar ingin tapi sudah menjadi bidan yang memang dibutuhkan masyarakat baik lokal maupun global," tuturnya.
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Bugatti Veyron Ini Buatan Seniman Boyolali