tragedi sukhoi

Patriotisme dari Lapangan Hijau

Jum'at, 3 Februari 2012 11:40 wib

Judul Buku: Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal buku: 108 Hlm
Cetakan :  2011

Andrea Hirata adalah pengusung trend baru sastra Indonesia. Karya Laskar Pelangi yang bertutur tentang setapak perjalanan menuju sukses menjadi ilham dan memberikan pengaruh yang kuat bagi para pembacanya. Kehadiran Laskar Pelangi kala itu mampu mengubah struktur sastra tanah air yang sebelum beraroma “lendir”.
    
Menapaki karir sebagai sastrawan dengan tidak sengaja Andrea Hirata kembali melahirkan sebuah karya yang bercerita tidak jauh dari masa lalunya. Tentang dirinya, orang-orang terdekatnya, dan kampung halamannya.
    
Buku ini dengan secara gamblang membuka tabir sejarah Andrea Hirata yang sebenarnya memiliki cita-cita menjadi pemain Tim Nasional sepak bola. Endapan keinginan yang bermula dari temuaanya ketika mendapati foto ayahnya yang pernah menjadi pemain bola kampung ternama di kala penjajahan Kolonial Belanda.
    
Disebutkan bahwa bersama dua kakaknya, ayah Andrea memiliki tim sepak bola yang sangat disegani karena kepiawaian ketiganya dalam mengolah si kulit bundar. Ketiga memiliki posisi berbeda, sang ayah merupakan sayap kiri lincah yang handal dan memiliki tendangan pisang. Sedangkan dua saudara yang lain adalah seorang sayap kanan dan playmaker merangkap bek tengah yang tangguh nun kokoh.  
    
Tim mereka adalah tim dari kelompok buruh tambang yang selama ini selalu menjadi “anak bawang”. Namun, berkat bakat alam ketiganya serta sentuhan pelatih Amin tim buruh tambang menjadi idola baru. Apabila tim mereka bermain, seluruh penduduk kampung berduyun-duyun ingin menyaksikan unjuk kebolehan skill cantik menawan dari trisula bersaudara ini.
    
Akan tetapi langkah mereka untuk menjadi yang terbaik terhalang dengan kesewenang-wenangan penguasa yang selalu memaksakan kehendak. Sudah menjadi “harga mati” kalau pemenang sebuah turnamen adalah tim dari penjajah. Maka, sudah barang tentu segala cara dilakukan untuk menjegal tim kesayangan penduduk pribumi, termasuk tim buruh tambang.
    
Dalam sebuah kompetisi peringatan hari ulang tahun ratu Belanda kenyataan pahit nan getir itu akhirnya benar-benar terjadi. Menjelang final, karena ketakutan dan kekhawatiran akan permainan yang eksplosif dari tridente bersaudara tersebut sehinga dapat mengalahkan kesebelasan Belanda yang akibatnya bisa meruntuhkan harga diri. Dipanggil dan diancam ketiganya untuk tidak lagi bermain. Namun, ancaman tersebut tidak membuat mereka “keder”. Ketiganya tetap nekat untuk tampil.
    
Hasilnya, ketiga diusir dan dibuang dari tanah kelahirannya. Bahkan ayah Andrea Hirata harus meratapi nasib. Lutut kaki kiri yang menjadi andalannya ditimpuk dengan palu, sehingga rusak dan membuatnya tidak bisa digunakan lagi.
    
Aroma cerita inilah yang kemudian menyulut semangat Andrea Hirata ingin melanjutkan cita-cita yang tidak kesampaian dari Ayah berseragam merah putih berzirah garuda di dada.
    
Sekelumit cerita buku ini memberikan arti penting tentang bagaimana mimpi dan keinginan itu dipupuk agar tercapai walau pada kenyataannya berbicara lain. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai untuk sebuah kesuksesan. Termasuk bagaimana membangun timnas yang kuat, disegani dan menjadi kebanggaan bangsa.

Peresensi:  AS Arifin, Analis dari Universitas Indonesia


(//mbs)

Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.