Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Ahmad Arif

Mendambakan Pemimpin Berkarakter Profetik

Mendambakan Pemimpin Berkarakter Profetik
A
A
A

Minggu, 5 Februari 2012 lalu bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awal 1433, umat Islam seantero dunia merayakan lahir (maulid) Nabi Muhammad SAW. Beragam seremonial pun digelar dari mulai level terbawah (terkecil) dalam masyarakat hingga level tertinggi Negara, termasuk di Indonesia. Bahkan, di Aceh, provinsi ujung Barat negeri khatulistiwa ini, perayaan maulid Nabi itu dilaksanakan selama hampir empat bulan.
 
Historia Perayaan Maulid

Dalam amanatnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, tanggal 6 Agustus 1963, Presiden Soekarno bercerita, "Sore-sore saya diajak oleh Presiden Suriah Sukri al-Kuwatly ke makam Salahuddin. Lantas Presiden Kuwatly bertanya kepada saya, apakah Presiden Soekarno mengetahui siapa yang dimakamkan di sini? Saya berkata, saya tahu, of course I know. This is Salahuddin, the great warrior, kataku. Presiden Kuwatly berkata, tetapi ada satu jasa Salahuddin yang barangkali Presiden Soekarno belum mengetahui. What is that, saya bertanya. Jawab Presiden Kuwatly, Salahuddin inilah yang mengobarkan api semangat Islam, api perjuangan Islam dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi."

Amanat Bung Karno di atas menegaskan, peringatan Maulid Nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama "Saladin". Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah) sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual. Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.
 
Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.

Transformasi Kesalehan


Secara subtansial, perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengenal akan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran agama Islam. Tercatat dalam sepanjang sejarah kehidupan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin besar yang sangat luar biasa dalam memberikan teladan agung bagi umatnya.
Dalam konteks ini, perayaan maulid seharusnya diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat. Yakni, sebagai semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokrasi seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan, pluralitas, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme.

Dalam tatanan sejarah sosio antropologis Islam, Nabi Muhammad SAW dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi. Pertama, dalam perspektif teologis-religius, Nabi Muhammad SAW dilihat dan dipahami sebagai sosok nabi sekaligus rasul terakhir dalam tatanan konsep keislaman. Hal ini memposisikan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok manusia sakral yang merupakan wakil Tuhan di dunia yang bertugas membawa, menyampaikan, serta mengaplikasikan segala bentuk pesan “suci” Tuhan kepada umat manusia secara universal.

Kedua, dalam perspektif sosial-politik, Beliau dilihat dan dipahami sebagai sosok politikus andal. Sosok individu Nabi Muhammad SAW yang identik dengan sosok pemimpin yang adil, egaliter, toleran, humanis, serta non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial Arab kala itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera dan tentram.

Pemimpin Berkarakter Profetik


Sangatlah tepat apabila Micheal H. Hart menempatkan Nabi Muhammad saw dalam urutan pertama di antara seratus tokoh yang paling berpengaruh. Perubahan yang dilakukan olehnya masih terasa sampai saat ini. Ajarannya senantiasa dilaksanakan terus-menerus oleh umatnya tanpa perubahan apa pun. Seorang manusia yang pantas untuk dijadikan figur pemimpin. Pemimpin dalam segala hal. Pemimpin yang memberikan contoh langsung pada pengikutnya. Bukan janji belaka tetapi bukti nyata yang dapat diterima oleh semua manusia.

Keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad saw tidak terlepas dari aspek keteladanan dan kepribadiannya. Karakteristik kepemimpinan politik Nabi sebagai negarawan berpijak pada sifat-sifat kenabian yang melekat pada dirinya. Maka Aspek terpenting diteladani dari Nabi dalam konteks politik adalah kepemimpinan politiknya yang didasarkan pada empat sifat kenabian yang meliputi; Shiddiq (terpercaya), amanah (tanggung jawab), tabligh (penyampai), fathonah (cerdas) sebagaimana yang dihafalkan oleh anak-anak dalam pengajian mereka.

Menurut Dr. Firdaus Muhammad, dosen Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar, keempat sifat mulia itu disebut juga dengan politik profetik, yakni konsep perpolitikan yang berdasar pada nilai-nilai kenabian. Politik profetik atau politik kenabian meniscayakan sosok pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dapat dipercaya dan memiliki kecakapan serta mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik. Politik profetik yang merujuk pada sifat kenabian Nabi Muhammad saw, itu dapat dinarasikan sebagai  berikut.

Pertama, sosok pemimpin politik profetik diniscayakan memiliki sifat siddiqh atau terpercaya. Dalam tata bahasa Arab, kata shiddiq itu berada di atas shadiq yang berarti orang paling jujur atau terjujur dalam sebuah komunitas. Mungkin saja banyak orang jujur dalam komunitas itu, tapi bisa dipastikan hanya satu dua yang paling jujur di antara mereka. Shiddiq itu bisa dianalogikan seperti kejujuran dan kepolosan bayi. Apa yang ada dalam hati dan pikirannya, itulah yang diungkapkan dan dilakukan tanpa bertendensi apapun. Tanpa memperdulikan pencitraan. Tapi, shiddiq itu bukan pula berarti hantam kromo.

Kegagalan para pemimpin belakangan ini karena hilangnya rasa kepercayaan publik terhadap dirinya. Pemimpin shiddiq memiliki pengertian bahwa pemimpin selalu dianggap berada dalam tataran slogan kebenaran dan jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Segala sesuatu yang diucapkan jangan pernah ada punya tendensi pribadi atau didasari oleh self interest dan emosional pribadi serta kelompok tertentu, tetapi semua yang diucapkan oleh didasari atas panduan bisikan hati nurani.

Kedua, amanah. Seorang pemimpin harus memiliki komitmen dan  bertanggungjawab atas masyarakat atau negara yang dipimpinnya. Seorang pimpinan baru dapat dikatakan amanah jika hasil pekerjaan tidak ada penyelewengan atas jabatannya dan tidak takut ketika diaudit oleh akuntan public, baik di saat ataupun sesusai menjabat, karena memang ia bekerja on its track (di jalannya).

Ketiga, seorang pemimpin politik profetik mesti memiliki kecakapan (fathonah), terutama cakap bertindak cepat dalam mengatasi masalah. Selama ini, sejumlah pimpinan negara lamban dalam bertindak ketika negaranya menghadapi krisis, bahkan lebih dominan pemimpin yang kaku dalam aturan birokratis yang dibuatnya sendiri. Seorang pemimpin harus cerdas secara intelektual juga memiliki kesigapan bertindak yang benar demi kemaslahatan umat.

Keempat, tabligh. Nabi memiliki kefasehan beretorika, sangat komunikatif, baik komunikasi secara verbal maupun nonverbal. Karenanya, sebagai komunikator, seorang pemimpin itu harus memiliki dua faktor penting dalam komunikasi yakni kepercayaan audiens/lawan bicara (source credibility) dan daya tarik (source attraction) yang didasari oleh frame of reference (kerangka dasar ilmu) dan field of experience (lingkup pengalaman). Kemampuan berkomunikasi akan sangat menentukan berhasil tidaknya seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya.

Pemimpin politik yang berkarakter  profetik seperti uraian di atas yang rakyat Negara ini dambakan saat ini agar bisa keluar dari pelbagai kesialan (krisis) yang sedang berkelit berkelindan. Sehingga negeri ini bisa menegakkan kepalanya di depan komunitas dunia dan berdiri di atas kakinya sendiri. Semoga.

Ahmad Arif
Penulis adalah alumnus Fakultas Syariah & Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berdomisili di Banda Aceh

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement