JAKARTA- Aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah Anak Baru Gede (ABG) yang tergabung dalam geng Cewek Macho Performance (CMP) mengagetkan sebagian kalangan masyarakat. Hanya gara-gara dianggap menghina simbol geng tersebut, mereka menganiaya rekan wanitanya.
Mengapa ABG-ABG itu mudah tersulut emosi dan melampiaskannya dengan cara kekerasan?
Menurut psikolog sosial Universitas Airlangga, Ahmad Chusairi kekerasan yang dilakukan oleh geng CMP bukanlah fenomena baru di Indonesia.
“Masyarakat kita sudah lama belajar untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak terlatih untuk menyelesaikan masalah dengan mengedepankan komunikasi, selain itu ini juga membuktikan kegagalan pendidikan, baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan dalam keluarga,” kata Chusairi saat dihubungi okezone, Selasa (7/2/2012) malam.
Kekerasan yang dilakukan geng CMP, kata Chusairi bisa dikategorikan sebagai kekerasan kolektif sehingga para anggotanya memiliki keberanian untuk melakukannya.
Chusairi juga menyoroti, dampak media yang menjadi faktor pendorong kekerasan di kalangan generasi muda. “Peran orang tua di rumah seringkali digantikan dengan media-media, seperti internet,” katanya.
Dijelaskannya, sejak tahun 1980an terjadi pergeseran dalam pola pendidikan anak. Banyak orang tua yang sibuk bekerja akibatnya pola asuh diserahkan ke pembantu sehingga pengawasan menjadi kurang. “Peran orang tua dalam mengajarkan agama, adat menjadi kurang, akibatnya anak-anak banyak yang mencari-cari melalui internet, apalgi akses internet saat ini bisa dikatakan merata. Ini bisa menstimulasi anak untuk mengambil keputusan, termasuk menggunakan cara-cara kekerasan,” katanya.
(Stefanus Yugo Hindarto)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.