Judul : Syekh Siti Jenar, Mengungkap Misteri dan Rahasia Kehidupan
Penulis : Mohammad Zazuli
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2011
Tebal : 220 halaman
ISBN : 978-979-024-267-8
Sampai hari ini, asal usul, riwayat hidup, serta kisah kematian Syekh Siti Jenar masih menjadi misteri yang belum selesai terpecahkan kebenarannya. Banyak versi cerita ihwal asal-usul maupun kematian Siti Jenar, baik yang tersirat maupun tersurat, baik yang logis maupun yang janggal. Nama Siti Jenar dikenal masyarakat Jawa sebagai sufi legendaris, misterius, serta “wali murtad”, lantaran kehadiran dua ajarannya, manunggaling kawula gusti dan memayu hayuning bawana, yang dinilai kontroversial.
Menurut Walisanga, Siti Jenar adalah wali murtad, karena ia telah berani menganggap dirinya sebagai Tuhan, dan sebaliknya, tuhan adalah dirinya (kesatuan manusia dan tuhan). Namun sebentar, apakah penilaian walisanga semacam ini benar? Atau jangan-jangan walisanga sendiri yang keliru dalam menafsirkan ajarannya? Lantas, apakah perseteruan antara walisanga dan Siti Jenar adalah persoalan agama atau persoalan politik? Maka, kehadiran buku ini bermaksud menguak pelbagai kejanggalan cerita tersebut, sekaligus ingin menawarkan pemahaman yang komprehensif, bukan parsial.
Manunggaling kawula gustiKonsep manunggaling kawula gusti (kesatuan hamba dan Tuhan) —yang menjadi ajaran utama mistisisme Syekh Siti Jenar— masih menjadi perdebatan yang tak pernah usai diantara berbagai pihak. Ini dikarenakan masing-masing diantara mereka berbeda satu sama lain dalam memahami dan menafsirkan konsep tersebut.
Selama ini, konsep manunggaling kawula gusti cenderung ditafsirkan secara tekstual—dalam arti eksistensi manusia adalah tuhan, dan tuhan adalah manusia—, sehingga khalayak pun cenderung mengklaim bahwa Siti Jenar “musyrik”, karena berani menyekutukan Tuhan. Bagi saya, pemahaman ini sangat ekstrim, karena telah berani “mengkafirkan” Siti Jenar tanpa terlebih dahulu menelisik maksud dibalik gagasan konsepnya. Imbasnya, ajaran agama pun menjadi ladang pemicu konflik.
Dalam buku ini, Zazuli menjelaskan sejatinya manunggaling kawula gusti merupakan bersatunya subjek dan objek di dalam satu kesadaran tunggal (wahdatusy syuhud), agar seorang individu menjadi lebih utuh, penuh, selaras, dan seimbang. Selaras dengan diri sendiri, sesama, segenap makhluk, alam semesta, serta Tuhan. Dalam bahasa agama, ini disebut dengan insan kamil (manusia sempurna). Dan orang yang dapat berbuat demikianlah yang sejatinya menjadi “manajer” Allah di muka bumi (hlm: 86).
Namun, realitas sejarah berkata lain. Ajaran ini justru dianggap sesat oleh walisanga, lantaran —menurutnya— secara kasat mata, aliran ini telah menahbiskan persekutuan antara manusia dengan tuhan. Padahal, jika dicermati lebih seksama, ajaran manunggaling kawula gusti ini justru merupakan implementasi dari ilmu makrifat kepada Tuhan Yang Maha Esa, di mana ini merupakan salah satu laku mistisisme level tertinggi.
Uniknya, melalui buku ini, Zazuli justru membuat tamsil menarik ihwal empat tingkatan laku tasawuf yang dimaksud, yakni syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat. Zazuli mengibaratkan syariat seperti serabut kelapa, tarekat bagaikan batoknya, hakikat bak buahnya, serta makrifat sebagai santannya. Tentu, siapapun orangnya tidak akan bisa minum santan kelapa yang ada di dalam buah kelapa tersebut, jika tidak melewati serabut, batok dan buahnya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Manunggaling Kawula Gusti, seseorang tak mampu memperoleh posisi ini, jika ia belum sembah raga, sembah cipta, dan sembah rasa terlebih dahulu.
Memayu Hayuning Bawana
Selain konsep Manunggaling Kawula Gusti, buku ini juga mengelaborasi secar detail konsep memayu hayuning bawana. Jika ditelisik secara detail, konsep ini sebenarnya tak beda jauh dengan konsep Akhlaqul Karimah dan Rahmatan lil alamin yang pernah digagas oleh Rasulullah Muhammad saw.
Dalam konsep ini, Siti Jenar ingin menekankan pada setiap manusia untuk berbuat baik kepada sesama, meski antara manusia satu dengan lainnya berbeda identitas, ras, warna kulit, ataupun agama. Bagi Syekh Siti Jenar, hakikat pribadi tinggi (the higher self) adalah kesadaran atau jiwa terdalam dari diri manusia yang terhubung langsung dengan Tuhan. Sehingga, menemukan jati diri sebenarnya juga sama dengan menemukan keberadaan Tuhan (hlm: 176). Namun, lagi-lagi konsep ini dinilai walisanga sebagai konsep yang mengada-ada dan sesat.
Terlepas dari benar atau tidaknya tafsir walisanga tersebut, hal yang perlu dikoreksi bersama adalah seringkali ajaran atau doktrin agama yang seharusnya tak bermasalah, tapi justru dipermasalahkan, sehingga akhirnya berimbas pada munculnya kekerasan atas nama agama atau Tuhan. Agama yang seharusnya menjadi solusi solutif atas pelbagai problematika kehidupan umat beragama, alih-alih justru menjadi pemicu tumbuhnya konflik.
Maka, tak salah jika Syekh Siti Jenar lebih menekankan ajarannya dalam ilmu hakikat —dalam istilah Siti Jenar disebut Ilmu kasampurnan— daripada ilmu syari’at. Hal ini tentu bukan berarti ilmu syari’at tidak penting. Bagi orang awam, syariat adalah sesuatu yang penting, namun perlu dicatat bahwa jangan sampai hanya karena mengerjakan syari’at, lantas hakikat diabaikan. Padahal, semestinya ilmu syari’at dan hakikat haruslah berjalan beriringan.
Terlepas apakah ajaran Siti Jenar sesat atau tidak, yang pasti ia hendak memberikan pelajaran pada seluruh umat Islam bahwa beribadah kepada Tuhan adalah sesuatu yang niscaya, namun cara untuk berwushul (kehendak bertemu) pada-Nya hendaknya tak harus diperdebatkan, karena debat-kusir teologis selamanya tak akan dapat menyelesaikan masalah, justru akan memicu konflik.
Buku ini merupakan lompatan sejarah yang sangat luar biasa, karena Zazuli mampu mengembalikan penafsiran konsep manunggaling kawula gusti dan memayu hayuning bawana Syekh Siti Jenar sesuai pada tempat asalnya.
Meski buku ini menawarkan paradigma kritis dalam memahami ajaran mistisisme Siti Jenar, tapi bukan berarti buku ini tanpa kekurangan. Saya mendapati salah satu kekurangan buku ini terletak pada elaborasi bahasa yang cenderung banyak memakai istilah asing mistik Jawa tanpa terjemah. Sehingga secara tidak langsung pembaca yang tidak atau belum pahamistilah mistik Jawa pun butuh merenung dan berpikir ekstra pelbagai istilah tersebut. Semoga hal itu tidak menyurutkan kegairahan membaca.
Peresensi adalah Ammar Machmud, penikmat buku, Alumnus IAIN Walisongo Semarang
(//mbs)