tragedi sukhoi

Program 'Satu Hari Tanpa Nasi' di Depok Berlaku Tiap Selasa

Marieska Harya Virdhani - Okezone
Selasa, 14 Februari 2012 16:37 wib

DEPOK- Program Satu Hari Tanpa Nasi atau One Day No Rice yang diberlakukan Pemerintah Kota Depok sudah dimulai sejak 9 Februari 2012.

Namun sosialisasi yang dilakukan kepada para pedagang kantin dilakukan terkesan mendadak yakni baru disampaikan pada Jumat 10 Februari 2012 lalu.

Kebijakan tersebut berlaku setiap satu pekan sekali yakni tiap hari Selasa. Sedikitnya terdapat 21 pedagang di kantin Balai Kota Depok yang harus mematuhi peraturan yang tertuang dalam surat edaran Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Depok bernomor 010/26-UM.

Hal itu dibenarkan oleh salah satu pedagang sate dan sop kambing di Depok, Jack (40). Dia menolak peraturan tersebut, meski tak bisa berbuat apa-apa. “Aneh kalau mau berlakukan kebijakan hemat listrik, tapi kita enggak boleh jualan nasi, apa enaknya sate dan sop kambing enggak pakai nasi, lontong pun juga enggak boleh,” tuturnya kepada wartawan, Selasa (14/02/12).

Selain itu, kata Jack, kebijakan tersebut tak akan efektif mengurangi pemakaian listrik di lingkungan Pemerintah Kota. “Enggak masuk akal saja, kami orang kecil semakin tertekan, enggak bisa menolak, hari ini pertama kali dimulai, semua pedagang enggak ada yang berani jualan nasi,” tuturnya.  

Seperti diketahui, surat edaran program “Satu Hari Tanpa Nasi” itu ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Etty Suryahati atas nama Kepala Bagian Umum Kota Depok Wijayanto. (ugo)

(ahm)

  • anak kaltim » 0 Tanggapan
    pemikiran yg bagus. di luar j**a ga masalah tuh kalo makanan pokok bukan pakai nasi, cuman masyarakat yg berpikiran sempit kalo ga ada nasi itu berarti dinamakan ga makan :D
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Dedi Nursyamsi » 0 Tanggapan
    Saya sangat setuju atas program pemerintah Depok, yaitu gerakan satu hari tanpa nasi dalam seminggu. Tepat sekali apa yang disarankan Gubernur j**a Barat bahwa salah satu program ketahanan pangan adalah dengan mengurangi konsumsi karbohidrat yang bersumber dari beras dan digantikan dengan sumber lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Beras dinilai sebagai komoditas yang boros dan tidak efisien dalam menggunakan sumberdaya alam (air dan tanah) yang semakin hari semakin terbatas karena pertambahan penduduk dan perubahan iklim. Saat ini Indonesia termasuk konsumen terhadap beras tertinggi di dunia, yaitu sekitar 124 kg beras perkapita pertahun, bandingkan dengan Jepang yang hanya sekitar 60-70 kg beras perkapita pertahun. Sumber karbohidrat di tanah air sangat berlimpah, seperti jagung, singkong, sukun, ubi-ubian dan lain-lain sehingga tidak ada alasan apakah makanan lain selain beras sudah siap atau belum. Yang jadi masalah mungkin karena kita belum terbiasa mengkonsumsi karbohidrat selain beras. Selain untuk meningkatkan ketahanan pangan, program ini juga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penganekaragaman menu selain beras selain dapat melengkapi berbagai gizi yang diperlukan tubuh, juga dapat mengurangi berbagai risiko penyakit yang berkaitan dengan konsumsi karbohidrat seperti diabetes melitus dan lain-lain. Program ini sebenarnya sudah lama (hampir satu tahun) dilaksanakan di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Jakenan, salah satu UPT Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Ayo maju terus masyarakat Depok, semoga ke depan program ini dapat menjadi program nasional. Wassalam Dedi Nursyamsi
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ferry » 0 Tanggapan
    Pemimpin e**n Buat peraturan kok ga ada hubungannya dgn listrik!! Lulus TK apa gak sih itu??? Oon banget gitu kok bs jadi pemimpin kota...ANEH!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • kasiha, rakyat indonesia.. hahahahhaha Ulah pemimpin yang liar dan gila. » 0 Tanggapan
    kasiha, rakyat indonesia.. hahahahhaha Ulah pemimpin yang liar dan gila.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • cyntia » 0 Tanggapan
    peraturan yang aneh.kalo mau buat peraturan pikirkan dlu donk
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.