Prya Ramadhani: Karir Saya di Golkar Bukan karena Ical

Dokumentasi Okezone

Prya Ramadhani: Karir Saya di Golkar Bukan karena Ical
NAMA Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Prya Ramadhani, disebut-sebut masuk dalam sederet bakal calon Gubernur DKI Jakarta dari partai berlambang pohon beringin ini.
 
Ketika namanya muncul, pandangan miring terhadapnya pun mengikuti. Banyak yag meragukan kemampuannya. jangankan untuk memimpin Jakarta, untuk bersaing menjadi orang nomor satu di Ibu Kota pun dirasakan sulit. Kesuksesannya saat ini masih saja dicap karena berbesan dengan Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie (Ical).
 
Namun, pandangan tersebut tak membuat ayah kandung pesinetron Nia Ramadhani ini berkecil hati. Anggota DPRD DKI Jakarta ini yakin, kepercayaan datang bukan karena hanya hubungan kekerabatan tapi karena kerja keras.
 
Berikut petikan wawancara khusus okezone dengan Prya Ramadhani baru-baru ini.
 
Bisa diceritakan asal usul Anda mencalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta?
 
Saya ini kan Ketua Golkar DKI, sebelumnya saya ketua Golkar Jakarta Timur. Kemudian pada Musda kemarin saya jadi ketua Golkar DKI. Ada dorongan dari teman-teman karena setelah reformasi, Golkar tidak pernah mencalonkan kadernya sendiri. Sedangkan di Golkar ini banyak sekali gagasan atau ide-ide yang bisa memajukan Kota Jakarta. Tapi karena tidak punya kekuasaan, sehingga mungkin gagasan ini tidak bisa direalisasikan. Maka dari itu mungkin teman-teman menganggap perlu mencalonkan kadernya pada Pilkada 2012 jadi Gubernur dan atau Wakil Gubernur DKI. Dikuatkan dengan Rakerda DKI di Ancol.
 
Apa yang membuat Anda siap?
 
Yang membuat saya siap, mungkin salah satunya alasan teman-teman saya sudah dua priode di DPRD bekerjasama dengan Pemda DKI mengelolah Jakarta ini. Karena Jakarta itu legislatif dan eksekutuf. Saya juga disini sudah 50 tahun lebih. Mungkin itu dianggap sedikit banyak saya mengetahui masalah internal maupun di luar Pemda DKI Jakarta.
 
Pencalonan Anda selalu dikaitkan dengan politik dinasti, karena Anda berbesan dengan Aburizal Bakrie. Apa tanggapan Anda?
 
Sah saja orang itu, tapi kita juga harus melihat tidak boleh menilai atau menghukum orang, saya juga di Golkar bukan karena Pak Ical Ketum, tapi saya juga kariernya dulu di Golkar Jakarta Timur dua priode. Dan di Golkar itu partai yang sudah terbuka dan sangat demokratis. Tidak mungkin di Gokar bisa nepotisme, semuanya harus melalui mekanisme atau prosedur. Saya pun walau saya besan saya juga tidak bisa semena-mena menginginkan apa yang saya mau. Jangankan, Pak Ical pun tidak bisa semen-mena di Golkar.
 
Sebagai besan, apakah Anda melakukan lobi khusus kepada Aburizal?
 
Kalau lobi saya rasa sah, yang bukan besan juga mungkin melobi. Orang yang bukan kader partai pun mungkin melobi jadi enggak ada yang salah. Kita tunggu saja keputusan DPP. Keputusan apapun harus diterima.
 
Apa respons Aburizal menyikapi pencalonan Anda?
 
Beliau itu memberikan kesempatan kepada seluruh kader yang mau mencalonkan. Tapi intinya Golkar menginginkan, memberikan atau mewakafkan kadernya menjadi gubernur atau wakil yang dianggap bisa membawa kebaikan bagi Jakarta. Jadi di Golkar bukan hanya pengen menang tapi ingin mencalonkan dengan bertanggung jawab kepada masyarakat. Bahwa yang dicalonkan sudah melalui suatu telaahan atau apapun namanya bahwa dialah yang terbaik untuk Jakarta.
 
Bakal Calon dari Golkar ada tiga nama, selain Anda ada Aziz dan Tantowi. Berdasarkan popularitas Anda kalah dengan Tantowi, bagaimana menyikapi ini?
 
Tidak apa-apa, kita sebagai manusia harus juga mau menerima apapun. Ketika Tantowi popular ya wajar dia artis, presenter, jadi wajar kalau dia populer.
 
Apa manuver Anda sejauh ini untuk mendapatkan tiket dari DPP?
 
Enggak ada, saya cuma kasih lihat kinerja saya saja. Alhamdulillah hasil survei partai, Alhamdulillah di bawah kepemimpinan saya dari yang waktu pemilu kemarin tujuh persen saat ini sudah 18 persen. jadi saya menunjukkan prestasi saja.
 
DKI masalahnya banyak, tiap hari dicaci maki warga, Anda tidak takut jadi Gubernur?
 
Ya kalau kita takut jangan ngapa-ngapain, dirumah saja. Tetapi selama kita berbuat dan rakyat tahu kita benar-benar berbuat, kita enggak usah takut. Pro kontra itu pasti ada enggak mungkin 100 persen orang itu setuju dengan kita. Tetapi kita harus berani mengambil keputusan kepentingan yang lebih besar. Disitulah kita mendorong untuk kepentingan masyarakat lebih besar. Kalau kita enggak benar baru kita takut. Tapi selama kita untuk kepentingan rakyat enggak usah takut.
 
Apakah Anda siap bila tidak diusung Golkar?
 
Oh iya, kita punya komitmen memajukan Jakarta. Apapun keputusan partai yang penting itu terbaik untuk kota Jakarta. Kepentingan pribadi tidak boleh lebih tinggi dibandingkan kepentingan masyarakat. Kita tidak ada istilah berkhianat. Apapun keputusan DPP mau itu Tantowi, mau itu Aziz atau DPP mendukung yang lain kita harus patuh. Kita boleh beradu argumen tapi ketika partai sudah mengambil keputusan kita sudah harus patuh.
 
(teb)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Menlu AS Jelaskan Status Palestina-Israel