Fatahillah: Sebuah Nama yang Tersisa di Kota Tua

|

Museum Fatahillah (foto: Amelia/okezone)

Fatahillah: Sebuah Nama yang Tersisa di Kota Tua

Sebuah gedung bearsitektur khas Belanda berdiri kokoh ditengah kawasan Kota Tua, Jakarta. Gedung yang pernah menjadi Balai Kota dan Pusat Pemerintahan Batavia pada jaman Hindia-Belanda itu, saat ini digunakan sebagai Gedung Museum Sejarah Jakarta. Namun masyarakat yang biasa bertandang, lebih mengenalnya dengan nama Gedung Fatahillah atau Museum Fatahillah.

Miris, meski namanya terkenal dan familiar sebagai sebuah gedung, tetapi tidak banyak orang yang mengetahui siapa Fatahillah itu dan apa yang telah ia lakukan sehingga namanya masih dikenang hingga saat ini.

Fatahillah merupakan sosok penting dalam perjalanan sejarah Jakarta. Pemuda yang memiliki nama asli Fadhlulah Khan Huzarat itu hijrah ke tanah Jawa untuk memperkuat armada kesultanan-kesultanan Islam di Jawa, yakni Demak, Cirebon, dan Banten. Fatahillah konon pernah dititahkan oleh Syarif Hidayatullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati untuk mengawal isterinya.

Selain itu, Fatahillah juga ditugaskan oleh kesultanan-kesultanan Islam tersebut untuk melakukan pengawasan atas kerjasama yang dilakukan oleh Portugis dan pemerintah Sunda Kalapa. Namun dalam kerjasama tersebut, Fatahillah menemukan adanya indikasi yang tidak baik dari pihak Portugis. Orang-orang Portugis yang datang atas utusan Gubernur Malaka tersebut berencana melakukan perjanjian untuk mendirikan benteng di dekat Muara Sungai Ciliwung. Sehingga Fatahillah pun mengambil sikap tegas untuk menyerang orang-orang Portugis. Pertempuran terjadi di sekitar Teluk Jakarta dan dimenangkan oleh Fatahillah.

Atas kemenangnnya tersebut, Fatahillah mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527, yang selanjutnya dijadikan sebagai hari jadi kota Jakarta. Nama ‘Jayakarta’ sendiri muncul sebagai hasil dari munajat yang dilakukan oleh Fatahillah. Ia terilhami dari sebuah ayat Al-Quran surat Al-Fath yang berbunyi ‘Inna Fatahna Laka Fathan Mubina’ yang artinya ‘Sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan padamu, kemenangan yang tegas.”. Dari potongan ayat itulah, ia mengambil nama Jayakarta yang artinya ‘Kemenangan Sempurna’.

Nama Jayakarta dan kiprah Fatahillah bertahan sampai Belanda mengambil alih. Pada 30 Mei 1619, secara resmi Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia yang dilakukan oleh Jan Peterzoon Coen, atau yang dikenal dengan nama J.P.Coen.

Kini, jejak perjuangan Fatahillah yang masih tersisa adalah sebuah meriam berkepala naga yang pernah digunakan oleh Fatahillah untuk bertempur. Meriam tersebut menjadi salah satu koleksi di Museum Sejarah Jakarta. Selain meriam tersebut, jejak yang ditinggalkanya adalah sebuah nama besar yang memiliki arti penting bagi berdirinya kota Jakarta. Sekalipun nama besar tersebut dikenang dalam sebuah gedung yang sudah tua.

(ahm)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • jagoan kite

      Guru Mansur dari Kampung Sawah

      MUHAMMAD Mansur Al Batawie adalah satu dari sekian banyak ulama berpengaruh di Jakarta. Guru Mansur lahir di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat pada 1878.

    Baca Juga

    Ibunda Terdakwa Pelecehan JIS Histeris di Ruang Sidang