JAKARTA - Perubahan-perubahan di dunia internasional belakangan ini berlangsung dengan pesat dan cepat, seperti yang terjadi di Afrika Utara.
Perkembangan proses perdamaian di Timur Tengah yang bukan lagi soal Palestina tapi juga adanya democratic deficit di kawasan, ancaman pecahnya konflik di sekitar Selat Hormutz, Irak dan Afghanistan, serta peluang konflik di Laut China Selatan serta masalah Thailand-Kamboja. Ketidakpastian situasi global dan regional di atas bisa mengancam potensi yang dimiliki Indonesia.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa dalam Pembukaan Rapat Kerja 2012 Kementerian Luar Negeri dengan Perwakilan RI di Ruang Nusantara, Kemlu, Jalan Taman Pejambon, Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Dalam waktu dua tahun semenjak Rapat Kerja terakhir, perkembangan dunia bergulir secara pesat dan fundamental, sehingga membutuhkan cara pandang serta pola pikir yang dipertajam. “Kita perlu menjadi agent of change, yang cakap dan antisipatif mendorong perubahan ke arah yang lebih baik,” lanjut Menlu RI.
Manfaat Rapat Kerja 2012 ini adalah untuk mengidentifikasikan hal-hal yang sudah berjalan baik, pada saat yang sama mengidentifikasikan hal-hal yang masih bisa ditingkatkan menjadi lebih baik lagi, peluang-peluang dan hambatan-hambatan yang ada serta mengkonsolidasikan raihan yang telah dicapai, melakukan overview secara komprehensif sehingga kinerja menjadi lebih efektif.
Rapat Kerja 2012 Kementerian Luar Negeri dengan Perwakilan RI ini dihadiri oleh para Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri yang terdiri dari 85 Duta Besar, 28 Konsul Jenderal, 4 Konsul serta 3 Kuasa Usaha Ad-Interim dari 88 negara.
(ful)