Belajar Berpolitik ala Adipati Jayengrana

Eks Pendopo Kadipaten Surabaya (Foto : Nurul Arifin/Okezone)

Belajar Berpolitik ala Adipati Jayengrana
Berbicara Kota Surabaya tentunya tak lepas dari sosok Adipati Jayengrana yang saat itu menjadi pemimpin ketika Surabaya masih menjadi Kadipaten Surabaya.

Wilayah Surabaya saat itu masih ikut dalam kekuasan Kerajaan Kartasura. Adipati Jayengrana memerintah Kadipaten Surabaya didampingi oleh pembantu setianya Arya Suradireja.

Sekira Juli 1686, sekelompok pasukan bersenjata dari Kadipaten Surabaya yang dipimpin oleh Adipati Jayengrana ini singgah di Desa Lidah Wetan (saat ini berada di Kecamatan Lakarsantri).

Pasukan ini, sebenarnya dalam perjalanan pulang setelah menyusuri tepi Sungai Brantas dari Kadipaten Kediri. Mereka berpisah dari Gabungan Pasukan Kartasura dan Madura di bawah pimpinan Pangeran Puger (Raden Mas Drajat), Saudara saudara muda lain ibu dari Ingkang Sinuwun mangkurat II, Raja Kartasura pada waktu itu.

Seperi dikutip dalam buku 'Sawunggaling sebuah legenda Surabaya', pasukan ini baru saja melakukan pengejaran kepada pasukan Untung Suropati bersama pengikutnya dari Bali.

Untung Suropati melarikan diri setelah membunuh duta kompeni di alun-alun Kartasura yakni Kapten Komisaris Tack.

Pengejaran terhadap untung Suropati sebenarnya hanya pura-pura saja. Sebab, pembunuhan Kapten Tack sudah mendapat restu dari Raja Kartasura. Karena sang Kapten ini dianggap telah merendahkan derajat penguasa Kartasura.

Hingga akhirnya, Untung Suropati mendirikan  Kadipaten Baru di Pasuruan bergeklar Adipati Wiranegara. Pemerintahan baru Untung Suropati ini pun mendapat dukungan dari Adipati Bangi Raden Mas Arya Wirasuta dan Surabaya.

Bedanya, Adipati Bangil ini memberikan dukungan secara terang-terangan sedangkan Adipati Surabaya memberikan dukungan secara sembunyi-sembunyi.

Pemberian dukungan secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan karena Kadipaten Surabaya masih dalam kekuasan Raja Kartasura Amangkurat yang mendapat dukungan dari pemerintah Belanda.

Sedangkan dukungan kepada Untung Suropati diberikan karena Adipati Jayangrana merasa simpati atas perjuangan Adipati Pasuruan itu dalam memerangi penjajahan Belanda di tanah  air. Untuk menunjukkan dukungan terang-terangan tentunya akan khawatir terjadi peperangan yang besar.

Suatu ketika dilema itu muncul. Adipati Jayengrana harus menentukan dukungan kepada siapa harus berpihak. Saat itu, seorang duta Belanda yang bertugas di Kaveleri Ke-7 Garnisun Semarang, Letnan Cornelis Van Jannsen, ditugasi ke kadipaten itu.

Tujuannya adalah mengetahui seberapa jauh sikap sang Adipati atas pemberontakkan Untung Suropati kepeda pemerintah Belanda.

Menjawab pertanyaan itu, sang Adipati mencoba untuk berhati-hati. Sebab sikapnya dalam membantu Untung Suropati dalam berjuang mengusir penjajah tidak ingin diketahui oleh pihak kompeni.

Dengan tegas sang Adipati menjawab berpihak kepada Raja Kartasura. Sang Adipati pun tidak menjelaskan Raja Kartasura yang dimaksud.

Raja Kartasura itu apakah Alnarhum Amangkurat Amral yang tidak jelas berpihak kepada Kompeni atau Amangkurat Mas yang saat ini bergabung dengan Untung Suropati atau Pakubuwana I yang  jelas berpihak kepada kompeni.

Bahkan ketika didesak oleh Duta Belanda itu apakah berpihak pada Belanda atau Untung Suropati. Dengan diplomatis sang Adipati menyatakan dirinya akan memihak siapapun asalkan diperintah oleh Raja Kartasura. Sang Duta itupun akhirnya mengambil keputusan bahwa sang adipati ingin bersikap netral. (kem)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    KMP Komitmen Jadi Penyeimbang Jokowi-JK