JEMBER - Partai politik yang ada saat ini hampir semua mengalami disorientasi. Pasalnya, parpol tidak memiliki sumber pendanaan yang jelas. Padahal dalam AD/ART parpol manapun sumber dana berasal dari iuran anggota partai.
"Tapi apakah benar anggota parpol membayar iuran? Yang jelas ada sponsor, sumbangan dari kader partai yang jadi anggota dewan ataupun kepala daerah," kata Agus Condro saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Disorientasi Parpol dan Libido Kekuasaan di Gedung Alumni Universitas Negeri Jember, Jawa Timur, Rabu (14/3/2012).
Agus Condro yang juga mantan terpidana kasus suap pemilihan Gubernur Bank Indonesia ini juga mengatakan, parpol ibarat air pada hulunya sudah tampak keruh.
"Parpol soko guru demokrasi sebenarnya untuk merumuskan undang-undang yang memperhatikan kepentingan rakyat. Tapi omongnya saja untuk kepentingan negara, padahal intinya untuk kepentingan parpol sendiri," ujar mantan anggota DPR RI Komisi IX ini.
Dia menegaskan, sebenarnya kalau parpol sudah tidak amanah kepada rakyat dan anggotanya, maka bisa saja dengan berani anggota partai menyatakan boikot membayar iuran.
"Parpol saat ini sudah seperti perusahaan saja. Tidak lagi memperjuangkan ideologi, namun sekarang sudah mirip becak, ojek, dan taksi. Sebab jika ada kepala daerah yang mau maju lewat parpol maka harus ada syarat uang didepan dulu," tandasnya.
Dia juga menambahkan, disorientasi parpol juga bisa dipengaruhi dengan adanya gaya hidup elit parpol yang cenderung mahal. Contohnya, untuk bertemu dengan konstituen saja saat ini kader parpol yang jadi anggota dewan bertemu di cafe.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.