Terlanjur Basah

Senin, 02 April 2012 13:58 wib | Rani Hardjanti - Okezone

TERLANJUR basah, demikian kata yang tepat menggambarkan situasi dibatalkannya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 April 2012. Ya, nyatanya harga-harga sayur mayur dan kebutuhan pokok sudah dibanderol lebih tinggi.

Kondisi ini terjadi lantaran harga-harga kebutuhan pokok sudah terlanjur terendam isu kenaikan harga BMM. Nyatanya harga premiun tetap Rp4.500 per liter.

Berdasarkan pengalaman, ketika harga sudah naik maka butuh waktu sekira dua hingga tiga bulan dapat menstabilkan harga. Itu pun setelah ada aksi operasi pasar yang dilakukan secara gencar oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan. Keterlanjuran ini harus segera diantisipasi. Jika tidak maka akan menyebabkan efek domino yang meluas, mengingat wacana kenaikan harga BBM bisa sewaktu-waktu dilakukan, menyusul ketidakpastian situasi global.

Kondisi ini mencerminkan kondisi pasar yang sangat khas Indonesia. Ini tidak hanya berlaku di pasar primer seperti pasar tradisional saja, tetapi karakter ini juga terjadi di pasar sekunder seperti bursa efek. Di mana pasar lebih cenderung dipengaruhi faktor psikologis ketimbang faktor fundamental.

Batalnya kenaikan harga BBM memang melegakan. Namun, di sisi lain terdapat bom waktu yang sangat mengerikan yakni, kesehatan APBN dan fiskal. Sementara kedua hal itu merupakan faktor fundamental yang sangat mempengaruhi ekonomi sebuah negara. Apalagi dua faktor inilah yang dijadikan investor untuk menanamkan modalnya.

Lihatlah negara yang saat ini mengalami krisis seperti Amerika Serikat, Yunani, Italia, dan negara-negara di zona Uni Eropa, semuanya mengalami tekanan yang bermuara dari tidak sehatnya APBN dan fiskal mereka.

Saat ini, yang menjadi ancaman bagi Indonesia adalah meroketnya harga minyak dunia.  Berdasarkan data yang diolah dari chart perdagangan minyak mentah dunia pada IntercontinentalExchange, harga minyak jenis Brent pada kuartal pertama tahun ini, meningkat tajam USD15,5 per barel atau 14,4 persen. Jika dirupiahkan, si emas hitam ini mencatat angka kenaikan Rp141.747 (Rp9.145 per USD). Harga ini masih bisa lebih tinggi lagi, mengingat tren harga minyak yang terus melambung.

Ancaman lainnya, yakni tingginya kebutuhan dolar Amerika yang bisa melemahkan rupiah dan menguras cadangan devisa, serta tingginya inflasi yang terus menggerus keuangan rakyat. Apakah APBN mampu menopang kondisi terpelik?

Untuk menangani sejumlah tekanan ini, dibutuhkan sikap tegas dan kemahiran pemerintah, sehingga ekonomi Indonesia selamat dari jurang kebangkrutan.
(rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »