UGM Kembangkan Energi Hibrid di Bantul

|

UGM & Kemenristek mengembangkan teknologi energi hibrid di Bantul, Jawa Tengah. (dok. UGM)

UGM Kembangkan Energi Hibrid di Bantul

JAKARTA - Pengembangan energi alternatif biasanya hanya difokuskan pada satu jenis energi. Tetapi, kali ini Universitas Gadjah Mada (UGM) mengombinasikan panas matahari dan kekuatan angin sebagai sumber energi alternatif hibrid.

Proyek percontohan yang dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) itu diinisiasi di Pantai Pandansimo, Srandakan, Bantul, Jawa Tengah. Daerah berpasir dengan luas 37 hektare (ha) itu nantinya akan menjadi pusat pengembangan energi baru dan terbarukan.

Asisten Deputi Iptek Industri Kecil dan Menengah, Ristek, Ir Santosa Yudo Warsono, MT, mengatakan, pengembangan energi hibrid di Tanah Air telah dimulai tiga tahun lalu. 

"Meski masih dikembangkan, tenaga hibrid ini tengah dicoba dimanfaatkan untuk pertanian di lahan berpasir yang memerlukan air ekstra tinggi. Kita manfaatkan untuk menaikkan air ke permukaan," kata Santosa seperti disitat dari situs UGM, Senin (9/4/2012).

Program energi hibrid di Bantul sendiri, ujar Santosa, difokuskan pada pengembangan teknik produksi dan peningkatan kapasitas produksi komponen. Selain itu, program ini juga fokus dalam meningkatkan kemampuan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Santosa memaparkan, saat ini sudah terpasang 35 unit turbin angin dengan tinggi rata-rata 18 meter sebagai pembangkit listrik tenaga hibrid. Dari jumlah tersebut, 26 turbin angin berkapasitas 1 kW, enam turbin angin 2,5 kW, dua turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 50 kW. Ada juga 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 kWp.

"Untuk sementara ini pemanfaatan pembangkit listrik tenaga hibrid digunakan untuk penerangan kawasan wisata pantai, pelatihan operasional, workshop pengembangan energi terbarukan dan implementasi model sistem inovasi daerah," Santosa mengimbuhkan.

Peneliti Energi Terbarukan dari Fakultas teknik UGM Dr Ahmad Agus Setiawan menilai, potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga hibrid di Indonesia sangat besar. Nantinya, ia bisa menjadi salah satu sumber energi alternatif yang memasok listrik di banyak pulau Nusantara. Pasalnya, suplai listrik tidak sepenuhnya mampu dilakukan lewat interkoneksi antarpulau, padahal Indonesia memiliki punya banyak pulau kecil.

Hasil penelitian dosen teknik fisika ini menunjukkan, kecepatan angin di Indonesia tidak sebesar di Belanda yang telah memanfaatkan kincir angin sebagai sumber energi. 

"Diperlukan banyak kincir untuk mendapatkan energi dari angin di Indonesia. Sebab, kekuatan kecepatan angin di sekitar Pantai Pandasimo saja misalnya, berkisar tiga hingga lima meter per detik. Sehingga perlu dikombinasi dengan generator kecepatan rendah dan energi panas matahari," Agus memaparkan.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kejagung Sita Aset Udar Pristono