Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Belum Satupun Kasus Penembakan di Papua Terungkap

Tegar Arief Fadly , Jurnalis-Selasa, 10 April 2012 |14:18 WIB
Belum Satupun Kasus Penembakan di Papua Terungkap
Ilustrasi (Foto: daylife)
A
A
A

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera mengusut tuntas kasus penembakan pesawat yang menewaskan satu orang di Papua. Menurutnya, Presiden harus memberi instruksi, bukan hanya membentuk tim satgas.
 
"Intruksi Presiden harusnya mengusut tuntas, melakukan koordinasi kembali, menata ulang. Kalau hanya membuat satgas, statmen, ya tidak akan bisa tertangkap," jelasnya kepada wartawan di DPR, Jakarta, Selasa (10/4/2012).
 
Ketua Fraksi PDIP ini menambahkan bahwa terhitung sejak tahun 1999 sampai sekarang telah terjadi berkali- kali kasus penembakan di Papua, dan tidak ada yang mampu diselesaikan oleh aparat.
 
"Sejak 1999 sampai sekarang sudah terjadi 30 kali lebih penembakan pesawat dan sampai sekarang aparat belum mengungkap siapa yang melakukan itu," imbuhnya.
 
Seharusnya, sambung Tjahjo, pemerintah harus mengambil alih kasus ini. "Saya kira pemerintah harus mengambil alih dan bertanggung jawab. Harusnya Presiden menagambil target, sekian bulan, sekian hari," tegasnya.
 
Jika pemerintah tidak segera sigap, kata dia, maka akan berbahaya bagi Papua. Mengingat Papua sangat berpotensi untuk diambil oleh asing, terutama karena sumber daya alamnya.
 
"Papua itu potensi asing sangat banyak. Amerika sudah memasang pangkalannya. Pasti dalam jangka pendek untuk mengamankan institusi yang ada di NKRI. Apa lagi masih ada sekelompok orang yang ingin merdeka?" tandasnya.

(Lamtiur Kristin Natalia Malau)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement