Rumah Sakit Umum Pringadi Medan Digugat Rp3,1 M

|

MEDAN - Rumah Sakit Umum Pringadi Medan, milik pemerintah kota itu, digugat oleh keluarga korban dugaan mal praktik, bernama Ganda Hermanto Tua Nainggolan senilai Rp3,1 miliar. 

Gugatan diajukan langsung melalui Pengadilan Negeri Medan, karena dianggap lalai dalam menangani pasien miskin yang mengakibatkan Ganda Hermanto Tua Nainggolan (19) yang tak lain anak penggugat meninggal dunia, Senin (9/4/2012).

Gugatan didaftarkan di Pengadilan Negeri Medan dengan nomor register No.189/PDT.G/2012/PN-Medan yang didaftarkan oleh Roder Nababan SH, Sobambowo SH dan R Aulia Taswin SH yang tergabung dalam Lembaga Bantuan Hukum Sekolah Sumatera Utara.

Menurut kuasa hukum Sobambowo, korban Hermanto meninggal karena menderita penyakit paru, saat berobat ke RS. Pringadi Medan tidak mendapatkan perawatan dan diabaikan selama 2 jam, sehingga mengakibatkan korban meningga dunia.

Tergugat dalam perkara ini yaitu dr Amiruddin, dr Syahlan dan dr Tunggu Hutapea selaku tergugat I, dirut RSU Pringadi Medan tergugat II, kadis kesehatan Medan tergugat III, Wali kota Medan  tergugat IV dan Kadis Kesehatan Sumut tergugat V.

"Gugatan dilakukan karena pihak rumah sakit sudah sering melakukan kelalaian dengan menyepelekan aspek penting tentang kesehatan yaitu pemberian pelayanan dan pertolongan pertama," katanya.

Kronologis

Awal kejadian, pada 21 Februari 2012, Ganda yang sudah duduk di Kelas 3 SMAN 21 Medan, mengalami sesak napas disertai pembengkakan di kedua tangan dan kakinya.

Perutnya juga membesar. korban pun dilarikan ke RS Sari Mutiara Medan, namun karena tidak ada ruang ICU Jantung di rumah sakit itu, korban dirujuk ke RSU Pringadi dan dirawat di ruang Flamboyan kamar 18.

Hasil diagnosa dokter bahwa korban menderita TB paru dan ditangani oleh ketiga dokter diatas (tergugat I).

Hingga hari ke-21 Ganda dirawat, tepatnya tanggal 28 Maret 2012, Ganda diketahui menderita pembengkakan jantung hingga menyulitkannya bernapas.

Hampir sebulan dirawat, kesehatan Ganda belum menunjukkan tanda-tanda membaik dan ia membutuhkan oksigen untuk membantu pernapasannya.

Meski belum membaik, lanjut Sobambowo, salah seorang tim dokter malah menyuruh  pasien  pulang dan selanjutnya dilakukan rawat jalan. Sebelum dipulangkan, dokter menyarankan supaya dilakukan cek terakhir untuk memastikan layak tidaknya pasien rawat jalan.

Pada 29 Maret 2012 sekira pukul 15.00 WIB, perawat memberi surat pulang. Menurut Sobambowo, ada keterangan dari perawat yang mengatakan, pasien dipulangkan dengan alasan Kartu Medan Sehatnya (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Medan Sehat/JPKMS) yang diperuntukkan untuk pasien miskin telah habis masa berlakunya. Pasien disuruh kembali datang berobat setelah kartu JPKMS-nya diperpanjang.

"Padahal, anak penggugat waktu itu sangat tergantung dengan oksigen. Jangankan semenit, sedetik saja pasien tidak bisa bernapas tanpa oksigen," katanya.

Sebelum pulang, dokter memberikan obat, dari hasil rongent dan hasil laboratorium, Dokter juga meminta Ganda untuk datang kembali ke rumah sakit pada Hari Senin dengan membawa surat rujukan dari Puskesmas setempat.

Ganda pun keluar dari rumah sakit tanpa dibekali oksigen, padahal Ganda masih sangat tergantung dengan oksigen untuk bernapas. Sekira pukul 17.00 WIB, kondisi Ganda semakin kritis, mulutnya terkatup rapat dan akhirnya meninggal dunia. 

Sobambowo mengatakan, tindakan tim dokter yang menyuruh pasien keluar dari rumah sakit dalam kondisi tidak memakai selang oksigen, merupakan tindakan semena-mena yang tidak memiliki rasa prikemanusiaan. Tindakan semena-mena ini, menurut dia, akibat kurangnya pengawasan dari tergugat III, IV dan V.

Menurut dia, tergugat I, II, III, IV dan V telah melakukan perbuatan melawan hukum kepada anak penggugat karena tidak menjalankan fungsinya dengan baik dan benar hingga mengakibatkan terjadinya perbuatan melawan hukum.

Untuk itu, atas kelalaian dan tindakan semena-mena tersebut, para tergugat diminta membayar kerugian materiil sebesar Rp228.000.000 dan immateriil sebesar Rp2.932.012.000 atau total Rp3.160.012.000.

Selain itu, para tergugat juga diminta untuk meminta maaf kepada penggugat melalui lima harian dan salah satu televisi di Sumut dengan format yang ditentukan oleh penggugat.

(amr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Putra Kandias "Manusia Utusan 2035" Hebohkan Dunia Maya