Teliti Toxo, Paper Widya Raih Juara se-Asia Pasifik

|

Widya Nurrohman. (Foto: dok. Unair).

Teliti Toxo, Paper Widya Raih Juara se-Asia Pasifik
JAKARTA - Siapa bilang penyakit toxoplasmosis hanya berasal dari kucing? Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Widya Nurrohman, ayam juga merupakan inang penyakit tersebut.

Dalam paper-nya ini, Widya mengangkat topik tentang toxoplasmosis, penyakit akibat infeksi Toxoplasma Gondii, sejenis protozoa parasit yang menginfeksi vertebrata. Bila seseorang terserang parasit ini, akan timbul gejala khas seperti gejala flu, nyeri otot yang berlangsung dalam hitungan hari, bahkan minggu. Seringkali orang tidak sadar meski sudah terinfeksi toxoplasmosis.

Toxoplasmosis biasanya lebih mudah menjangkiti pasien yang daya kekebalannya menurun (imuno compromise). Tiap tahun, angka kematian akibat toksoplasmosis pada pasien HIV mencapai 1.028 kasus. Selain itu, ditemukan 70 persen pasien UGD di RSUD dr Sutomo Surabaya positif mengidap toxoplasmosis.

"Masyarakat awam cenderung tidak tahu dan menganggap enteng penyakit ini, tapi bila sudah menyerang, banyak kerugian yang bisa ditimbulkan,” kata Widya seperti dikutip dari laman Unair, Jumat (13/4/2012).

Menurut Widya, bila seseorang terinfeksi toxoplasmosis di selaput otak, penderita dapat mengidap gangguan saraf, dan bila terinfeksi di mata bisa menyebabkan kebutaan okuler. Toxoplasma, lanjutnya, tidak hanya menyerang ibu hamil, tapi juga anak-anak hingga orang dewasa.

"Sering kali orang menyangka pembawa toxoplasma adalah kucing, tapi ternyata ayam juga bisa menjadi inang parasit ini," ujar mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair tersebut.

Widya menjelaskan, paper yang ditulis mengangkat penelitian yang sudah diteliti oleh dosen pembimbingnya. "Paper ini berangkat dari penelitan Mufasirin tentang Uji Kontaminasi Toxoplasma Gondii pada Telur Ayam. Dari penelitian itu saya coba paparkan ulang (review) dengan penelitan serupa yang dilakukan oleh peneliti Jepang pada 2009 dan beberapa penelitian lain," katanya.

Lewat paper ini Widya menyimpulkan, ayam kampung yang dipelihara dengan cara dilepasliarkan dapat menjadi media penyebaran toxoplasma. Diperkirakan, ayam terjangkit toxoplasma dari kotoran kucing di tanah yang merupakan inang utama parasit ini. Kemudian, ayam dan telur ayam yang terinfeksi toxoplasmosis secara tidak sadar dikonsumsi manusia dan mengakibatkan parasit toxoplasmosis masuk ke manusia. Dia juga menemukan, melalui hasil uji Dot Blot pada beberapa toko jamu tradisional di Surabaya dan Sidoarjo, sampel telur ayam yang diperiksa positif terkontaminasi Toxoplasma Gondii.

Widya berharap, masyarakat semakin tahu dan waspada terhadap penyakit toxoplasmosis. "Masyarakat yang memelihara ayam harus tahu cara pemeliharaan yang baik dan menjaga supaya ayamnya tidak terjangkit toxoplasmosis, yakni dengan tidak dilepas begitu saja. Semoga ada tindak lanjut pemerintah atas permasalahan toksoplasma ini, karena banyak inang toxoplasma yang berkeliaran seperti ayam dan kucing," ujar mahasiswa kelahiran Blitar ini.

Berkat penelitian tersebut, Widya pun menyabet gelar juara pertama dalam kompetisi penulisan paper internasional yang diselenggarakan oleh Altech Young Scientist kategori Undergraduate untuk zona Asia Pasifik. Selain gelar juara, dia juga mendapat beasiswa USD500 atau senilai Rp4,5 juta (Rp9.166 per USD).

Usaha dan kerja keras mahasiswa semester delapan ini tidak sia-sia. Widya mengaku, ini bukan pertama kali dirinya mengikuti kompetisi ini. "Tahun lalu saya pernah coba namun masih belum mendapat hasil maksimal," tuturnya.

Kompetisi paper Altech sendiri melombakan paper dengan topik bahasan kesehatan dan pakan hewan. Kompetisi tersebut bertujuan menjelaskan kembali penelitian agar mudah diterima masyarakat. Peserta yang mengikuti kompetisi ini berasal dari 83 negara yang dibagi menjadi 10 zona. (rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Menteri Jokowi-JK Tak Boleh Gelar Seremoni