Temui Suu Kyi, PM Inggris Desak Sanksi Myanmar Dicabut

|

PM Cameron dan Aung San Suu Kyi (Foto: CBC)

Temui Suu Kyi, PM Inggris Desak Sanksi Myanmar Dicabut

YANGON - Perdana Menteri Inggris David Cameron dan pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi mengeluarkan pernyataan bersama, agar sanksi terhadap Myanmar segera dicabut. Tetapi menurut Cameron tidak seluruh sanksi itu bisa dicabut.

Kunjungan PM Cameron ke Myanmar ini, merupakan yang pertama kalinya dilakukan pemimpin pemerintahan negara barat dalam waktu beberapa dekade terakhir. Saat dikuasai oleh pihak junta militer, Myanmar memang merasakan dampak isolasi dari dunia internasional.

Pada kunjungan ini pula PM Cameron melakukan pertemuan dengan Presiden Thein Sein yang menjalan proses reformasi di Myanmar, setelah junta militer mundur dari kekuasaan.

Perdana menteri dari Partai Konservatif itu meminta seorang negara anggota Uni Eropa untuk mencabut sanksi terhadap Myanmar. Tetapi pencabutan ini dikecualikan untuk embarga senjata, yang masih akan ditunda.

"Jika masih masih ingin melihat kesempatan kebebasan dan demokrasi terbuka lebih lebar di Myanmar, sudah sepantasnya kami meresponsnya dengan sebuah aksi," ungkap PM Cameron bersama dengan Aung San Suu Kyi seperti dikutip CBC, Sabtu (14/4/2012).

"Demi membantu negara yang berusaha mendapatkan kemerdekaan dari kekuasaan diktator dan berupaya untuk memperkuat ekonomi. Risiko untuk melakukan kerja sama, harus kita ambil," tutur Cameron.

Inggris yang dahulu menjajah Myanmar, kerap mengeluarkan sanksi keras kepada negara yang dulunya dikenal dengan sebutan Burma. Alasannya, Myanmar dianggap sebagai pelanggar HAM berat.

Sementara mengenai sanksi, 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa sudah mencabut beberapa larangan terhadap Myanmar sejak Januari lalu. 

Pada 23 April mendatang, para Menteri Luar Negeri Uni Eropa akan melakukan pertemuan, guna menentukan langkah selanjutnya untuk Myanmar.

(faj)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    JK: Menko Polhukam Takut Munas Golkar di Bali Ricuh